“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”
(Pengkhotbah 3: 1)
Salah satu hal yang saya syukuri berada dan sekolah di Amerika adalah saya dapat melewati empat musim dalam satu tahun. Tentu saja melewati keempatnya adalah hal baru bagi saya yang lahir dan besar di Indonesia, negara dengan dua musim saja. Tiap musim memiliki keindahan untuk dinikmati; sekaligus kesengsaraannya untuk dijalani. Misalnya saja, musim dingin, orang menikmati perayaan Natal dengan begitu indah karena hamparan salju dan pernak-pernik Natal terpasang di luar halaman rumah. Tetapi musim dingin ini pula orang tersiksa dengan udara dingin yang ekstrim di bawah -10 derajat celsius. Walaupun demikian, tiap orang tidak dapat menghindari atau menghentikan musim-musim yang secara natural muncul dalam satu tahun. Manusia hanya bisa bertahan sampai musim itu berganti.
Pengkhotbah mengatakan hal yang sama. Ketika dia berkata, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya,” dia menjelaskan tentang siklus hidup manusia yang natural; masa-masa yang harus dilewati dan tak bisa dihindari manusia. Dia melanjutkan dengan dinamika hidup pada masa-masa natural itu: hidup-mati, menanam-mencabut yang ditanam, sehat-sakit, menyimpan-membuang, dan seterusnya. Perkataannya ini menegaskan bahwa ada proses hidup yang memang harus kita jalani; tak selalu bisa kita pilih. Kita bisa memilih menjalani masa-masa itu, namun kita tidak bisa memilih hanya satu masa saja. Siklus itu memang harus terjadi dan kita jalani.
Pandemik COVID-19 telah menjadi persoalan dunia saat ini. Virus ini telah menyebar dengan amat cepat dan menelan korban jutaan orang. Kita belum bisa menghentikan dan menghindari keadaan ini. Berbagai negara sedang berusaha menemukan obat dan vaksin untuk penyakit ini. Di sinilah kita mengerti bahwa kita sedang memasuki masa-masa sulit, yang tak terhindarkan oleh semua orang di dunia. Yang bisa kita lakukan adalah hanya menunggu hingga masa-masa ini berlalu. Menunggu di sini, tentu bukan dengan cara pasif maupun reaktif. Kita tidak bisa menghindarinya, tapi kita bisa menolong mengurangi kecepatan penyebarannya. Pilihlah cara-cara yang bijak dan perluaslah hati kita dengan kebaikan bagi banyak orang. Lakukan social distancing, hentikan kepanikan dengan mengirim berita-berita terkait virus yang tidak bijak, jangan menumpuk kebutuhan pokok demi rasa aman hanya bagi kita sendiri, berdoalah bagi kondisi yang menyedihkan ini. Inilah cara beriman untuk menunggu masa-masa sulit ini berlalu.
Minggu Pra Paska keempat kali ini, kita diajak untuk menyadari kerentanan hidup manusia pada pergumulan penyebaran COVID-19 di seluruh dunia. Inilah musim yang tak bisa kita hentikan dan hindari kecuali kita bertahan dan menunggu hingga ‘musim’ ini berlalu. Bertahanlah dan menunggulah dengan iman dan kasih. Sebait kalimat bijak mengajarkan kita: “Every winter gives way to spring. This season will pass. Just hang in there.” Tuhan bersama kita!
(Pdt. Linna Gunawan)