Warta Minggu Ini
LABUAN BAJO: SEBUAH KILAS BALIK TENTANG KESEMPATAN

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita.” (Galatia 6: 10)


Awalnya, ada embusan napas lega. Ada rasa bebas yang menyelinap ketika menyadari bahwa untuk sejenak, saya lepas dari rutinitas setiap hari Minggu. Sudah bertahun-tahun lamanya saya merasa terikat pada “kewajiban” untuk hadir di Sekolah Minggu – bercerita, berbagi, dan mengiringi pujian dengan petikan gitar ala kadarnya. Rasa jenuh itu nyata, dan perjalanan ini seolah menjadi pelarian yang saya butuhkan.

Menapaki Bandara Komodo, saya membayangkan kemerdekaan di alam terbuka. Menjelajahi Pulau Padar, Rinca, dan hamparan biru Labuan Bajo terasa seperti jawaban atas kepenatan. Namun, semesta punya cara unik untuk menegur. Malam pertama di sana justru diwarnai rasa rindu rumah yang tak terduga, membuat hari pertama perjalanan diawali dengan kantuk yang luar biasa.

Namun, kejutan Tuhan dimulai saat senja di atas kapal. Di tengah laut yang terombangambing ombak dan dikelilingi pulau-pulau, langit cerah mulai berubah. Di sanalah Tuhan mulai menggoreskan lukisan maha indah-Nya. Warna-warni cahaya matahari menembus awan dengan keanggunan yang sukar dilukiskan. Hanya sekejap, lima belas menit kemudian, kegelapan menyelimuti jagat raya, digantikan oleh hamparan berjuta bintang.

Di tengah keluasan laut itu, rasa takut perlahan muncul. Kami hanyalah sebutir pasir di pantai yang tak berujung. Malam itu, saya merasa begitu kecil dan tak berdaya di hadapan kemegahan alam dan pekatnya malam. Pukul lima pagi, dalam gelap yang masih tebal, kami mendarat di Pulau Padar untuk mengejar fajar. Sekali lagi, kekaguman akan karya Tuhan membuncah. Kamera ponsel sibuk mengabadikan momen, namun dalam diam saya merenung: betapa kecilnya manusia dihadapan Sang Pencipta.

Saat Minggu sore tiba dan kami harus kembali ke hiruk-pikuk ibukota, sesuatu yang aneh terjadi. Rasa lega yang saya rasakan di awal perjalanan berubah menjadi kerinduan yang meledak-ledak. Saya rindu mengajar. Saya merasa kehilangan kesempatan berharga itu.

Bukan lagi rasa terbeban karena tugas, melainkan keinginan yang menggebu untuk membagikan kisah tentang Labuan Bajo kepada anak-anak. Saya ingin mereka ikut merasakan kebesaran Tuhan yang saya alami. Saya menyadari betapa beruntungnya saya diberikan kesempatan untuk tetap melayani di Sekolah Minggu. Melayani bukan lagi sebuah rutinitas, melainkan sebuah anugerah yang mahal. Sayup-sayup, lagu “Hidup Ini adalah Kesempatan” mengalun lembut di dalam hati. Terima kasih, Tuhan, atas perjalanan ini. Terima kasih telah menyadarkan saya bahwa melayani-
Mu adalah kesempatan yang paling indah.

(Pnt. Jerry Fandy)

SEMUA SAHABAT, SAHABAT SEMUA: THE COMMITMENT IN FRIENDSHIP
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17: 17) Relasi apapun memiliki komitmen....