Warta Minggu Ini
SIAPA BILANG YESUS HANYA DIAM?

“Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.”

(Matius 5 : 15)

Yesus yang diam dan tidak melawan kerap menjadi rujukan kita ketika menghayati pengalaman tidak menyenangkan. Surat 1 Petrus 2 : 23 pun kita kutip: “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” Dan, meneladani sikap-Nya, kita – para murid – memilih sikap sama: Diam saat dijahati, tidak melawan ketika diperlakukan tidak adil. Biar Tuhan yang bertindak, demikian kita menggerutu sambil mengelus dada.

Tapi, tunggu dulu. Jika cermat membaca Alkitab, kita akan tahu bahwa diam bukanlah satu-satunya pilihan sikap Yesus. Lihat saja ketika kepada-Nya diperhadapkan pelanggaran adat-istiadat oleh murid-murid-Nya, yaitu saat mereka, seperti dituturkan orang Farisi dan ahli Taurat, “… Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan” (Matius 15 : 2). Bukannya diam, Yesus justru berkata: “Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat-istiadat nenek moyangmu? … Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu… Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri” (ayat 3 – 6). Bukan sekadar membela murid-murid-Nya, melainkan Yesus menunjukkan persoalan serius yang terjadi, yaitu: pelanggaran perintah Allah demi adat-istiadat. Tentu saja hal ini tidak boleh dibiarkan!

Selain melalui kata-kata, ke-tidak-diam-an Yesus juga dinyatakan melalui tindakan. Misalnya, dalam kisah Zakheus (Lukas 19 : 1 – 10). Sebetulnya, Yesus bisa saja mengabaikan Zakheus yang berada di atas pohon. Tapi, tidak saja berhenti di bawah pohon, Yesus bahkan mengajak Zakheus berbicara. Kata-Nya, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (ay. 5). Hasilnya, tentu kita tahu, Zakheus bertobat! Kata Yesus dengan senang, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham” (ayat 9). Wah, jika Yesus melewati Zakheus begitu saja, apa yang akan terjadi? Syukurlah, Ia memilih untuk tidak berdiam diri!

Mencermati Yesus yang aktif bersuara dan bersikap dalam merespons berbagai persoalan yang terjadi, sudah waktunya bagi kita – murid-murid-Nya – meneladani Sang Guru secara komplit. Tuhan pun tampaknya memercayai kita, sehingga kita diperkenankan untuk mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Jangan sia-siakan kepercayaan-Nya, mari bersuara dan bersikap demi Indonesia tercinta! Soli Deo Gloria!

(Pdt. Timur Citra Sari)

ALL YOU CAN DO IS SHARE
“Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” (Matius 6:11 – TB2) Ketika beberapa kali menghadiri sebuah resepsi...