Warta Minggu Ini
SAULUS DAN PAULUS

“Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah”

(Kisah Para Rasul 9 : 19b – 20)

“Tidak baik seorang yang belum lama bertobat sudah dipercaya untuk menjabat sebagai seorang pelayan, apalagi seorang penatua,” kata seorang kawan. Dalam kehidupan bergereja, pendapat yang seperti itu ternyata ada. Mungkin saja hal tersebut didasarkan pada nasihat Paulus kepada Timotius: “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis” (1 Tim. 3 : 6). Hal yang dimaksud dengan “ia” adalah penilik jemaat (Yun: episkopos atau uskup).

Bagaimana kenyataan di atas bisa disikapi? Pertama, konteks Jemaat-jemaat Kristen pada waktu itu memang dipenuhi oleh orang-orang yang baru bertobat. Injil tengah diberitakan dengan gencar di sejumlah kota. Lantas, tidak sedikit dari mereka yang setelah diberi kesempatan melayani, menjadi sombong. Kedua, pada waktu itu, belum ada pembatasan periode pelayanan terhadap seorang penilik (misal: 3 atau 5 tahun), sehingga pengangkatan penilik harus dilakukan dengan cermat – jangan sampai kelak menjadi batu sandungan. Ketiga, tidak mudah untuk menentukan kriteria baru bertobat tersebut seperti apa? Apakah 1 hari, 1 bulan, 1 tahun? Bagaimana jika dalam masa 1 bulan tersebut, ada perubahan yang sangat radikal dialami oleh seseorang sehingga sebenarnya siap untuk melayani? Tidakkah ia bisa melayani?

Hal yang menarik adalah bahwa Paulus, yang memberi nasihat tersebut, justru dulunya adalah seorang petobat baru yang kemudian dipakai Allah. Dalam nas kita hari ini, Saulus yang pergi menuju Damsyik untuk menangkapi dan menyiksa para pengikut jalan Tuhan, lantas berjumpa dengan Yesus di tengah jalan dan bertobat. Ia tinggal di Damsyik beberapa hari bersama-sama dengan orang-orang Kristen di sana. Di sana, Saulus lantas memberitakan Yesus sebagai Anak Allah (baca: Mesias). Dengan kata lain, ia langsung melayani. Jeda antara waktu pertobatannya dengan pelayanannya hanyalah beberapa hari saja!

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Saulus yang kemudian disebut Paulus tersebut? Bahwa ternyata, Allah bisa memakai siapa saja, termasuk yang baru bertobat sekalipun, untuk menjadi seorang pelayan bagi-Nya. Tidak tanggung-tanggung, Saulus merintis jalan sebagai seorang rasul, dan pada akhirnya, ia merupakan seorang rasul yang terbanyak menulis surat-surat rasuli yang kemudian menjadi bagian Perjanjian Baru. Itu semua terjadi, karena Allah yang memperlengkapi dan memampukan Paulus mengerjakan pekerjaan-Nya.

Dengan begitu, sebagai Jemaat, kita perlu membuka diri bagi pekerjaan-pekerjaan Allah yang hendak dinyatakannya kepada kita, bukan justru membatasinya dengan pemikiran-pemikiran manusiawi belaka.

Sehubungan dengan peneguhan sejumlah calon penatua menjadi penatua pada hari ini, kita pun perlu meyakini bahwa ada karya Allah di balik pemilihan menjadi calon penatua tersebut. Dari kisah Saulus yang kemudian menjadi Paulus tersebut, kita belajar bahwa Allah bisa memakai siapa saja untuk menjadi pelayan-Nya. Kuncinya adalah kerendahan hati untuk terus berproses dengan Allah – Sang Pemilik Pelayanan, sehingga godaan untuk menjadi sombong tidak mendapat ruang dalam hati kita. Selamat kepada para penatua baru! Selamat melayani bersama di tengah Jemaat milik Allah!

(Pdt. Natanael Setiadi)

DIDIKAN ORANGTUA SAJA TIDAK CUKUP
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15: 33) Saat Nadiem Makarim, mantan menteri...