Warta Minggu Ini
DIDIKAN ORANGTUA SAJA TIDAK CUKUP

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15: 33)


Saat Nadiem Makarim, mantan menteri pendidikan di era Presiden Jokowi ditangkap dengan tuduhan melakukan tindak korupsi, potongan video di podcast Deddy Corbuzier, kembali viral di media sosial. “Mas kenal saya. Ayah saya dulunya Komite Etika KPK. Ibu saya pendiri Bung Hatta Anti Corruption Award. Saya lahir dan dibesarkan di keluarga antikorupsi, Mas,” tegas Nadiem dalam video tersebut.

Di era post-truth ini, sangat sulit untuk kita bisa tahu, mana hoax, mana fitnah, mana rumour, mana fakta, sayapun tidak tahu, apakah Nadiem memang benar pelaku korupsi, ataukah dia hanya kambing hitam, atau korban salah tangkap. Sungguh saya tidak tahu dan tidak berani menduga-duga. Tetapi entah mengapa, saat melihat potongan video tersebut, sebagai
orangtua ada rasa miris di hati saya. Andai apa yang disampaikan Nadiem itu benar, dan andai apa yg dituduhkan kepadanya sekarang ini pun benar, apakah itu berarti semua jerih payah orangtuanya dalam mendidik untuk hidup jujur adalah sebuah kesia-siaan?

Bukankah para ahli ilmu parenting mengatakan bahwa kejujuran dimulai dari rumah, dari keluarga? Seorang anak yang sejak kecil diajarkan untuk selalu mensyukuri apa yang didapat lewat kerja keras, dikatakan saat besar nanti tidak akan tergiur untuk hidup bergelimang harta lewat jalan pintas. Jadi di mana salahnya? Lalu tiba-tiba saya ingat akan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus dalam 1 Korintus 15:33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”.

Ayat tersebut seolah menyadarkan saya, ternyata bukan tidak mungkin, didikan orangtua untuk hidup jujur, bisa dengan mudah terlupakan saat seseorang ada dikelilingi orang-orang yang tidak memiliki integritas, orang-orang yang tanpa rasa malu berlomba memperkaya diri masingmasing dengan cara-cara yang tidak benar. Maka tidak aneh rasanya melihat anak-anak Tuhan yang ada di dalam pemerintahan pun banyak yang jatuh dalam dosa korupsi.

Jadi bagaimana? Apakah mengajarkan kejujuran kepada anak-anak, adalah perbuatan sia-sia? Tentu tidak. Mendidik anak untuk menjunjung tinggi kejujuran jelas merupakan kewajiban mutlak setiap orangtua. Tetapi tidak cukup sampai disitu, sebagai orangtua, hendaklah dengan rendah hati, kita pun mengakui bahwa selain didikan kita, anak tetap butuh Tuhan. Kita harus terus mengingatkan anak-anak kita agar mereka senantiasa memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan. Sehingga sekalipun mereka harus bekerja di lingkungan, di mana korupsi sudah menjadi hal biasa, mereka tetap ingat akan kebiasaan-kebiasaan baik yang ditanamkan orangtua sejak mereka kecil.

Dengan demikian, anak-anak kita maupun anak-anak Tuhan yang duduk dalam pemerintahan dapat menjadi pribadi-pribadi yang berintegritas.

(Pnt. Roosmala Djayasukmana)

MEMPERHATIKAN HIDUP
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu...