“Kalau engkau bersih dan jujur, tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu” (Ayub 8: 6)
Ayat di atas adalah bagian dari pasal di kitab Ayub, tentang percakapan Ayub dan sahabat-sahabatnya. Awalnya, kedatangan mereka untuk menunjukkan simpati kepada Ayub yang mendapat musibah bertubi-tubi. Namun berubah, ketika Ayub menumpahkan keluh kesahnya. Reaksi wajar dari seorang yang merasa di titik terendah kemampuan untuk menerima musibah yang terjadi beruntun. Mari perhatikan respons para sahabatnya saat mendengar keluh kesah Ayub.
Mereka yakin Ayub tidak cukup beriman, dan penderitaan itu pantas untuknya. Bagi mereka, hukum tabur tuai berlaku tanpa kecuali. Orang yang salah dan berdosa, wajar menderita. Dan orang yang ‘baik’ akan jauh dari masalah. Respons seperti ini masih sering terjadi. Saat anak kedua saya lahir dengan down syndrome, saya dapat banyak pertanyaan yang sulit dijawab. Seperti pertanyaan, apakah saya ada salah makan, pernah jatuhkah saat hamil, usia berapa saat hamil, hingga pertanyaan kenapa saya tidak menjalani amniosentesis sebagai deteksi kelainan genetik. Ketika saya perlu waktu mencerna, tentu tidak mudah diberi pertanyaan seperti itu. Jawaban saya adalah, belajar menerima bahwa Tuhan memilih kami. Ada waktu cukup panjang menjalani perkataan itu.
Belajar merespons dengan benar adalah proses yang tidak mudah. Saya bersyukur pernah mengalami fase kebingungan menghadapi respons terhadap pergumulan kami saat itu. Akhirnya, membantu kami bisa menahan diri untuk bertanya, mengambil kesimpulan, atau merespons masalah orang lain tanpa mengetahui detilnya. Contoh terbaik tentang merespons dengan benar ada pada Yesus.
Yesus mengetahui waktu yang tepat untuk berkata, bersikap tegas dan kapan hanya diam. Yesus memilih diam di pengadilan Pilatus, karena tidak ada kebenaran yang diperjuangkan dalam peradilan tersebut, kecuali pembenaran atas nama kebencian. Yesus mengucapkan kalimat pendek, mempersilahkan orang yang tidak berdosa untuk pertama kali melempar batu pada perempuan yang kedapatan berzina. Yesus bersikap tegas melihat transaksi ilegal terjadi di bait suci.
Merespons dengan benar bisa menolong orang yang mungkin hanya perlu seorang pendengar yang baik. Tak segala hal perlu respons yang instan, kadang perlu memahami dan empati. Atau pilihan diam seperti Yesus, ketika banyak perkataan belum tentu membawa kebaikan dan damai sejahtera.
(Pnt. Sailorina Herawanni)