“Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.”
(Mazmur 73: 21 – 23)
Saya pernah berjalan sendirian di sebuah perkebunan teh yang sangat luas. Perkebunan itu terhampar seluas 2.022 hektar. Saya ada di sana untuk mencari satu titik yang kata orang adalah spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbit. Rupanya tidak mudah untuk menemukan titik itu, karena di sana semuanya tampak sama. Beberapa kali saya salah mengambil jalan. Saya berharap bertemu seseorang, entah pengunjung atau petani kebun. Namun, pada saat itu tidak ada siapa-siapa. Saya merasa bingung, tetapi saya tidak mungkin berhenti dan berdiam diri. Saya harus terus berjalan agar menemukan titik yang saya cari, dan dapat bermalam untuk menyambut esok pagi.
Ketidakpastian adalah sesuatu yang sangat membingungkan dan paling dihindari manusia. Karena itu manusia selalu berencana, berupaya agar segala sesuatu dapat terukur, dan pilihan-pilihan yang mengandung ketidakpastian selalu menjadi opsi terakhir. Para motivator sering membicarakan tentang kepastian hidup, karena manusia tidak menginginkan ketidakpastian. Namun, masa pandemi beberapa bulan terakhir memaksa kita untuk berhadapan langsung dengan ketidakpastian itu. Kita tidak dapat mengukur masa depan dan tidak ada yang pasti. Tetapi mau tidak mau kita tetap harus berjalan menghadapi kehidupan.
Pertanyaannya, di manakah Tuhan? Apakah dia ada di ujung jalan ketidakpastian ini? Apakah kehadiran-Nya baru bisa kita lihat saat kita tiba pada akhir perjalanan, atau ketika kita menemukan solusi dari setiap persoalan hidup ini?
Pemazmur menyaksikan bahwa Allah dekat. Dalam Mazmur 73: 21 – 23 ia mengakui kepahitan hidupnya dan ketidakmengertiannya atas apa yang sedang dihadapinya di dalam pergumulannya. Namun, di saat-saat ia belum menemukan titik terang, ia menyatakan bahwa Tuhan dekat. Ia merasakan bagaimana Tuhan memegang tangannya, membuat ia tetap memiliki rasa aman di tengah segala kepahitan yang harus dihadapinya. Tidak lagi ia mengutuki ketidakpastian hidup dan keterbatasan dirinya untuk memahami persoalan-persoalannya. Ia mengalami bahwa Tuhan dekat, dan itu cukup.
Ketidakpastian sudah menjadi makanan sehari-hari kita di masa pandemi. Ini adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk belajar. Belajar mengalami Tuhan yang dekat di tengah realita yang jauh dari harapan. Belajar merasakan kehadiran-Nya yang sedang memeluk kita. Entah melalui indahnya langit biru yang jernih, atau melalui waktu teduh setiap hari yang memupuk kedamaian di dalam hati. Ia bisa saja hadir melalui hal-hal biasa, melalui sapaan sahabat atau kerabat yang singkat namun menguatkan, atau melalui telinga yang senantiasa hadir untuk mendengarkan setiap keluh kesah.
Mari kita belajar merasakan kehadiran-Nya melalui hal-hal sederhana dalam keseharian kita.
(Pnt. Ayunistya D. Prawira, S.Si (Teol))