Warta Minggu Ini
BLAMING WARS

Manusia itu menjawab:  “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”  (Kejadian 3:12)

Tidak ada pernikahan yang bebas pertengkaran. Yang menikah karena cinta saja, bisa bertengkar hebat, apalagi yang bukan. Penyebabnya bisa hal kecil yang remeh hingga yang prinsip dan besar. Tetapi pertengkaran selalu terjadi karena perbedaan dan harus ada yang menang atau benar diantara pihak yang bertengkar. Karena itu harus ada pihak yang disalahkan supaya pihak yang satu jadi yang benar. Seringkali pertengkaran tereskalasi dengan cepat sehingga semua kesalahan, bahkan perselisihan mula-mula yang muncul ketika baru pacaran pun dikeluarkan sebagai senjata. Perceraian yang semakin lama semakin banyak jumlahnya bahkan juga dikalangan keluarga Kristen selalu dimulai dengan blaming war (perang saling menyalahkan).
Saya membayangkan saat Adam menunjuk Hawa dan Allah sebagai sumber kesalahan fatal yang mereka lakukan. Adam pasti takut Allah marah padanya. Ia merasa kesal sebab merasa tidak mampu menolak istrinya, sekaligus merasa bersalah sebab di dalam hati ia tahu dirinya ikut bertanggung jawab, terakhir ia juga merasa sedih sebab gagal mematuhi Allah. Namun instingnya untuk selamat (survival instinct) membuatnya membangun tembok pertahanan diri lewat menyalahkan Hawa dan Allah. Adam menyalahkan fondasi dari hubungannya dengan Hawa.

Saya yakin hati Hawa pasti pedih mendengar tuduhan Adam. Yang menarik, Hawa tidak membalas Adam. Ia tidak mengatakan, “Ah, kalau kamu nggak menerima buah itu dan memakannya, kan nggak apa-apa juga. Kamu juga lemah kok, kenapa saya yang disalahkan? Saya kan sayang kamu makanya saya bagi buah itu. Kalau tahu kamu kayak gini, saya nggak mau deh sama kamu.” Hawa malah menunjuk kepada ular, seakan-akan dengan memindahkan kesalahan kepada ular, ia bisa bebas dari kesalahan. Baik Adam maupun Hawa punya cara yang sama ketika menghadapi masalah karena kesalahan yang mereka buat, yaitu dengan menyalahkan pihak lain.

Mestinya dengan saling menyalahkan yang hebat seperti itu, Adam dan Hawa bisa berpisah. Apalagi Adam tidak menghargai fondasi hubungan mereka, seakan-akan ia jauh lebih bahagia (mungkin juga mujur) jika tidak bertemu Hawa. Tetapi kalau kita membaca lebih jauh tentang keluarga ini, sampai matinya, mereka tetap bersama dan membangun keluarga, bahkan ketika musibah menimpa keluarga mereka saat putra mereka membunuh adiknya, kita tidak membaca Adam menyalahkan Hawa atau Tuhan. Adam dan Hawa menjalani kehidupan mereka di luar Taman Eden justru dengan lebih berserah (Kej. 4 : 25). Kunci dari restorasi hubungan Adam dan Hawa terjadi ketika Allah menyelubungi ketelanjangan mereka. Allah mengorbankan binatang untuk melindungi mereka. Allah melakukan intervensi untuk menyelamatkan mereka termasuk hubungan mereka.

Ketika emosi hebat menguasai diri saat kita bertengkar dengan pasangan, sungguh mudah untuk masuk ke dalam blaming wars dan berupaya keluar sebagai pemenang dari pertengkaran itu tanpa peduli akan pasangan kita. Selama kita berupaya sendiri, pertengkaran hanya membuat sakit hati, meremukkan hubungan dan menghancurkan keluarga. Namun keluarga Kristen memiliki senjata yang sangat mumpuni untuk menangkal kehancuran hubungan dalam keluarga, yakni pemulihan dari Allah. Hanya Allah yang mampu memulihkan hati dan memperbaiki hubungan yang rusak secara sempurna, yang manusia sendiri tidak dapat menyelesaikannya. Jadi mengapa bersusah pedih sendiri jikalau Allah mampu memulihkan? Mari undang Allah untuk berintervensi – sekarang juga.

(Novi Lasi)

DULU SAYA TIDAK TAHU… TAPI SEKARANG…
“Kita tahu bahwa Dia turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang terpanggil...