Warta Minggu Ini
LIMA PULUH HARI SETELAH HARI PASKA

“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;…”

(Kisah Para Rasul 2: 1 – 2)

Dalam Perjanjian Lama, Pentakosta yang artinya kelima puluh, merupakan Minggu Putih atau Hari Raya Tujuh Minggu di mana umat Israel memaknainya sebagai festival panen raya ungkapan syukur mereka. Berbeda pengertian dalam Perjanjian Baru setelah lima puluh hari kebangkitan Yesus, lalu turunlah Roh Kudus bagi para murid yang menguatkan mereka dalam memberitakan kabar keselamatan di seluruh dunia.

Hal yang penting juga pada saat turunnya Roh Kudus ini, adalah menjadi hari kelahiran gereja yaitu ketika kumpulan orang dipanggil keluar dari dosa dan dipanggil keluar untuk memberitakan kabar sukacita ke seluruh dunia. Perkumpulan tersebut kemudian menjadi persekutuan berbagai suku, bangsa dan bahasa. Semuanya digerakkan oleh Roh yang sama, yang menjadi satu ikatan yang tidak terpisahkan. Ketika persekutuan ini menjadi Gereja yang menikmati ikatan cinta kasih dan masing-masing anggotanya memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus, maka Gereja pasti hidup dalam harmoni dan terus bertumbuh. Namun, sayangnya, pada kenyataannya, ada Gereja yang hanya mengurusi urusan dalam lingkungan internal sendiri. Gereja kurang peduli dengan lingkungan sekitar. Jemaat dikuasai oleh egoisme dan roh pementingan diri sehingga paradigma gereja hanyalah untuk kehidupan diri sendiri.

Ketika para murid menerima Roh Kudus, hidup mereka berubah. Paradigma dan orientasi diri mereka tidak terpusat pada diri sendiri, tetapi keluar dari ketakutan, keluar untuk memberitakan Injil Kristus. Karena itu, moment Pentakosta hendaknya menjadi moment untuk berefleksi bagi Gereja. Apakah kita sebagai Gereja sudah menjadi saksi seperti yang Tuhan Yesus harapkan? Apakah kita sudah merasakan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan kita? Roh Kudus yang memberikan kekuatan, yang memampukan kita menjadi saksi bagi perbuatan besar yang Tuhan Yesus telah lakukan di dunia ini, apakah telah menggerakkan kita untuk menunjukkan kasih itu kepada setiap orang dan komunitas yang kita jumpai?

Biarlah hari Pentakosta yang telah kita rayakan membuat kita merasakan kehadiran Roh Kudus yang menggerakkan kita sebagai Gereja untuk keluar dan menjadi berkat bagi sesama; memotivasi kita untuk menjadi alat damai sejahtera Allah untuk mewujudkan kebenaran, keadilan dan kasih. Kiranya Tuhan menolong kita.

(David I. Situmeang)

MENJADI SAKSI KRISTUS
“Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal,...