Warta Minggu Ini
KEPUNYAAN ALLAH

“Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.”

(Yesaya 43: 1b)

Seorang teman menceritakan pengalamannya ketika dia menggadaikan perhiasannya di toko emas dekat tempat kerja kami. Karena suatu hal, dia memerlukan dana yang lumayan besar untuk membeli barang-barang untuk tokonya. Dia memiliki perhiasan yang berharga, tetapi dia tidak ingin kehilangannya. Solusinya adalah dia menggadai perhiasannya dan menebusnya kembali sesuai jangka waktu yang ditentukan oleh toko emas itu. Toko emas memberikan surat perjanjian gadai sebagai bukti bahwa toko tersebut akan menyimpan perhiasannya, tidak akan menjualnya kepada siapa pun hingga teman saya membayar lunas dana yang disepakati. Setelah itu, teman saya akan menerima kembali perhiasan miliknya. Jika dia melanggar perjanjian, maka teman saya akan dikenakan tambahan bunga dan bisa saja perhiasannya akan dijual kepada orang lain. Saya bertanya kepadanya mengapa dia tidak menjual saja perhiasannya dan nanti dia bisa membeli lagi yang baru. Dia pun menjawab, Itu milik saya yang paling berharga dan saya ingin tetap memilikinya. Karena itu, dia berusaha menebus kembali perhiasannya.

Ayat dalam renungan ini mengingatkan saya akan tebusan Allah bagi manusia berdosa. Yesaya memberitakan lagi kasih Allah kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel. Bangsa yang berdosa dan terbuang di negeri asing, mendapatkan kembali janji penebusan Allah. Secara khusus, Allah menunjukkan kasih sayangnya dengan memanggil Israel sesuai namanya sebagai tanda milik kepunyaan-Nya yang berharga.

Seperti perhiasan yang berharga yang dimiliki oleh teman saya itu, kita pun berharga di mata Allah dan mulia sebab Allah mengasihi kita. Walaupun kita pernah menjauh dari Allah karena pilihan kita yang salah dan tidak menaati-Nya, Allah tetap mengingat kita. Ketidaktaaatan kita kepada Allah, membuat hidup kita tergadai oleh si jahat. Kita lebih menuruti keinginannya untuk semakin menjauhi Allah yang adalah Pemilik kita sesungguhnya. Namun karena kasih-Nya yang besar, Allah telah menebus hidup kita dan membayar lunas kesalahan kita dengan darah yang mahal, yaitu diri-Nya sendiri. Bagian kita adalah menyambut kasih karunia-Nya agar kita kembali dan menjadi anak-anak Allah yang taat kepada-Nya. Kita adalah kepunyaan-Nya yang dikasihi-Nya.

Kiranya keyakinan bahwa kita adalah anak-Nya yang berharga dan yang telah ditebus-Nya membuat kita percaya bahwa Dia menyertai perjalanan kita di tahun 2023 ini. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua.

(Debby Puspita)

PASKA: KISAH MARIA DAN KARTINI
“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4: 8) Paska tahun ini begitu...