Warta Minggu Ini
HIDUP DALAM OTORITAS TUHAN

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

(Matius 7 : 21)

Kata otoritas identik dengan kepemilikan atau pihak yang bertanggungjawab terhadap sesuatu. Misalnya, kepemilikan terhadap benda tertentu. Kita sebagai pemilik otoritas berhak dan bertanggungjawab penuh terhadap benda tersebut. Otoritas juga berhubungan dengan relasi. Orangtua, misalnya, pada waktu kita kecil, mereka punya otoritas atas hidup kita. Apa yang kita makan, mainan apa yang kita miliki, kapan waktunya tidur, baju apa yang dipakai.

Dalam Alkitab, Tuhan memiliki otoritas dalam hidup kita, sebab kita adalah milik-Nya. Matius 7 : 21 mengatakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. Ayat ini muncul pada saat banyaknya ajaran sesat di sekitar jemaat Kristen dalam konteks penulis Matius. Dari ayat ini, kita dapat berefleksi tentang otoritas Allah dalam hidup kita. Apakah kita sepenuhnya dan dengan sukarela menyerahkan diri dalam pimpinan Tuhan? Apakah hidup kita sepenuhnya telah seturut dengan kehendak Tuhan? Atau malah sebaliknya.

Ada dua hal yang Tuhan ingin kita lakukan dalam konteks melakukan kehendak-Nya, pertama, yaitu kita tidak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan dosa; dan hal yang kedua, yang kadang lupa kita lakukan, yaitu kita dipanggil untuk menjadi saksi-Nya di dunia ini. Tanpa melakukan keduanya maka kita belum lengkap memenuhi kehendak Tuhan. Hal ini berarti kita belum sepenuhnya menjadikan Tuhan sebagai Pemilik otoritas atas kehidupan kita.

Hal yang menarik buat saya adalah panggilan menjadi saksi-Nya. Tentu saja hal ini berhubungan dengan perintah yang pertama, yang berhubungan dengan dosa. Kadangkala kita tidak menjadi saksi-Nya saat hidup kita dipenuhi oleh perbuatan korupsi, benci, dendam, melakukan kekerasan terhadap orang lain, tidak memelihara hidup dengan penuh syukur. Hal ini membuat kita tak mampu memperlihatkan kekuasaan Tuhan dalam hidup kita. Orang lain tak bisa melihat kehadiran Tuhan melalui apa yang kita lakukan dan kerjakan. Karena itu, marilah kita mulai menjadi saksi Tuhan di manapun kita berada dan apapun yang kita kerjakan, selama kita masih diberikan kesempatan untuk melakukannya.

(David I. Situmeang)

TOMAS SATU KALI, SAYA SERINGKALI!
“Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”” (Yohanes 20:...