EXPIRED DATE

“Mengenai hal ini aku yakin bahwa Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai akhirnya selesai pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1: 6)


Di keluarga, saya termasuk daredevil dalam soal makanan. Saya seringkali tidak begitu memperdulikan tanggal kadaluarsa. Buat saya selama bentuk, rasa dan warna tidak berbeda, pasti saya konsumsi. Berbeda dengan suami saya yang tidak enggan membuang makanan yang sudah dekat kadaluarsanya. Sebagai produk keluarga kurang mampu, makanan adalah hal berharga buat saya.

Tanggal kadaluarsa memberikan perlindungan kepada konsumen sebab produk-produk tersebut punya batasan layak konsumsi / pakai. Lewat dari tanggal tersebut maka produk sebaiknya dibuang sebab sudah tidak prima lagi. Bagaimana dengan manusia – apakah manusia punya tanggal kadaluarsa? Jika ya, apakah tanda-tanda kadaluarsa seorang manusia?

Kita jarang menerapkan istilah kadaluarsa untuk manusia, namun kita tahu bahwa manusia punya batas akhir kehidupan. Sayangnya banyak juga
yang berhenti “hidup” sebelum meninggal. Banyak yang membiarkan diri dikuasai kehidupan, menjalani hari demi hari tanpa tujuan pasti. Harus diakui menjalani kehidupan tidak mudah, sehingga banyak orang terpuruk dan makin kehilangan asa. Hari ini ada kenaikan 20% orang menjadi pecandu (kenaikan sekitar 70 juta orang) dibandingkan kenaikan populasi yang hanya 1,26% (menurut United Nation Office of Drugs & Crime). WHO mencatat ratarata di dunia setiap tahun ada kasus bunuh diri 727.000 orang atau 1 kasus setiap 40 detik. Angka-angka yang suram ini menandakan manusia sedang tidak baik-baik saja. Apakah mereka yang menjadi pecandu, yang begitu putus asa sehingga bunuh diri adalah pilihan, merupakan manusia yang kadaluarsa?

Surat Paulus ini lahir dari dalam penjara, ia menghibur jemaat bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja di dalam kita. Ketika kita menghukum diri atas kelemahan atau situasi atau kegagalan kita, Ia sebenarnya belum selesai berproses di dalam kita. Ketika hidup terasa seperti kekacauan yang tiada henti, Sang Arsitek Agung masih terus membangun untuk mewujudkan rencana damai sejahtera-Nya di dalam kita. Tuhan terus konsisten membangun kita, apapun keadaan hidup kita bagaimanapun traumatisnya.

Ayat ini mengajari kita untuk tidak mencari “miracle”, ada hal-hal kecil yang menjadi bukti penyertaan Tuhan. Napas yang kita hirup bermula dari penciptaan manusia. Beratnya beban hidup bukan berarti tanggal kadaluarsa kita sudah dekat. Kita tak perlu menyelesaikan perjalanan hari ini, kita hanya perlu bertahan di dalam hidup yang terus dibangun Tuhan dan kita tidak akan dibiarkan-Nya sendirian menghadapinya.

Tanggal kadaluarsa bukan kita yang menentukan. Sebagai ciptaan yang Ia kasihi dan yang Ia perjuangkan di kayu salib, Ia terus membentuk kita. Ia tidak pernah menyerah atas kita, Ia tak pernah putus asa terhadap kita. Selama nafas masih dikandung badan, Tuhan belum selesai dengan kita. Jangan menyerah, He’s not done with you yet!


(Novi F. Lasi)

DIDIKAN ORANGTUA SAJA TIDAK CUKUP
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15: 33) Saat Nadiem Makarim, mantan menteri...