BUDAYA VIRAL DAN MENCARI PANGGUNG

“Dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, ia berakal budi.” (Amsal 10: 19)


Sepanjang bulan Agustus 2026 di GKI Kayu Putih diagendakan sebagai Bulan Budaya 2026. Dari berbagai keragaman budaya yang ada di Indonesia, termasuk budaya bahasanya, saya ingin men-spill salah satu ungkapan bijak dalam bahasa Jawa yang berbunyi “Sing ngomong ora mikir, sing mikir ora ngomong” yang arti harfiahnya adalah “Yang berbicara tidak berpikir, yang berpikir tidak berbicara.”. Adapun makna yang terkandung di dalamnya adalah :

  • Sing ngomong ora mikir menggambarkan orang yang asal bicara, ceroboh, suka membual tanpa mempertimbangkan kebenaran maupun dampak dari perkataannya. Orang seperti ini cenderung bertindak secara impulsif tanpa menggunakan akal budi
  • Sing mikir ora ngomong menggambarkan sosok yang bijak, tenang, dan berhati-hati. Orang yang paham permasalahan dan berusaha mencari solusi, tidak mengumbar kata-kata, lebih banyak mendengarkan serta mengamati keadaan sebelum bertindak.

Mengamati dunia medsos akhir-akhir ini, ungkapan “sing ngomong ora mikir” sangat menarik untuk dicermati. “Ngomong” di sini tidak terbatas pada bicara secara verbal, tetapi juga gerak jari-jari kita di gadget. Di platform seperti TikTok, Twitter dan Instagram, beberapa konten sengaja dibuat provokatif untuk memancing emosi demi mengejar views. Platform tersebut memang dirancang untuk mempromosikan konten yang mendapatkan interaksi (like, comment, share) paling cepat.

Apalagi konten yang bersifat rage baiting (memancing amarah, kejengkelan dan kontroversi) cepat menjadi viral dan mendapat panggung lebih besar. Dan ironisnya, respons netizen-pun tidak kalah galaknya, mereka berkomentar dulu, cek fakta belakangan. Banyak netizen langsung merespons atau berkomentar hanya berdasarkan thumbnail (judul klip singkat), tanpa membaca atau menonton isi konten secara utuh. Netizen sering kali terburu-buru menghujat atau menghakimi suatu isu tanpa membaca isi berita dan cross-check kebenarannya. Dan akibatnya sering timbul drama dan klarifikasi, baik dari si pembuat konten maupun netizen yang merespons. Mereka terpaksa membuat tayangan permintaan maaf setelah menyadari perkataan atau tindakan impulsif mereka di medsos menimbulkan masalah hukum maupun sosial.

Pada Bulan Budaya ini, sebagai anak Tuhan, sebaiknya kita jangan ikut arus “sing ngomong ora mikir” alias ngomong tanpa berpikir. Banyak tokoh akhir-akhir ini di medsos maupun di media mainstream, mengeluarkan pernyataan publik yang terkesan terburu-buru tanpa kajian matang sehingga berakibat blunder. Kita harus lebih bijak dalam bersikap. Menanggapi dunia medsos yang gaduh dan banyak diwarnai hoax tersebut
kita harus pandai “….menahan bibir dan berakal budi”. Kita memang tetap harus ngomong, kita tetap harus bersuara, tetapi suara kita adalah suara kebenaran. Suara hati yang dilandasi etika dan budaya. Suara kenabian yang dilandasi iman.

(Pnt. Eko Wahyu Andriastono)

SAAT KRISTUS MENYAPA KITA
“Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni” artinya Guru.” (Yohanes 20: 16) Tentu,...