Warta Minggu Ini
SAAT KRISTUS MENYAPA KITA

“Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni” artinya Guru.” (Yohanes 20: 16)


Tentu, kita pasti pernah mendengar salah satu tokoh Alkitab yang bernama Maria Magdalena. Maria Magdalena bukan seorang pelacur. Maria Magdalena adalah seorang perempuan yang dirasuk tujuh roh jahat. Dirasuk 7 roh jahat adalah bukti penderitaan yang sangat berat. Saat roh jahat menghinggapi diri, tidak ada kedamaian dan tidak ada cinta. (Lukas 8:2). Sebelum berjumpa dengan Yesus dia merasa mati, hampa. Namun setelah berjumpa dengan Yesus dia merasakan kehidupan, pengharapan.

Sayang sekali ketika harapan itu muncul, Tuhan Yesus disalib dan mati. sehingga dia mengalami luka ganda. Dampaknya dia tidak bisa mengingat pesan Tuhan tentang kebangkitan dan pengharapan. Yang ada di kepalanya adalah kekacauan. Bahkan dia tidak mengenali Tuhan Yesus. Apa yang dialami Maria Magdalena sangatlah wajar. Ia mengalami duka yang berat, sehingga ia tidak bisa merasakan kehidupan (sensing life) walaupun ia hidup. Karena kehidupannya dikuasai oleh duka. Yang ia lihat hanyalah masa lalu dan ketakutan menghadapi masa depan. Sebuah efek psikologi yang muncul karena terlalu beratnya kenyataan hidup yang dihadapi.

Dalam titik ini, orang yang merasakan kematian di tengah kehidupan tidak mungkin bangkit dengan kekuatan sendiri. Karena itu, kita membutuhkan anugerah Tuhan. Anugerah itu muncul dalam bentuk sapaan yang penuh rahmat. Tuhan Yesus memanggil Maria dengan namanya. Di dalam hidup ini, apabila kita sedang merasakan perasaan-perasaan seperti yang dialami Maria Magdalena, percayalah bahwa suatu saat Tuhan akan menyapa kita. Entah melalui tulisan yang kita baca, entah melalui orang lain yang tidak kita kenal dan tiba-tiba berbicara kepada kita. Perjumpaan semacam ini begitu menguatkan. Ada rasa haru, tangisan yang melegakan, dan sukacita serta damai sejahtera. Karena perjumpaan itu menunjukkan Tuhan yang bangkit, hidup, dan menyapa.

Dengan demikian, kematian Tuhan Yesus – walaupun tampaknya mematikan harapan Maria Magdalena dan murid-murid lainnya – sesungguhnya justru menghidupkan. Mengapa menghidupkan? Karena justru tanpa kematian tak ada kebangkitan. Kebangkitan menjadi bukti pengharapan yang abadi.

(Pdt. Yesie Irawan)

IKUT-IKUTAN
“…tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab...