BERJUMPA DAN BERBAGI KISAH

“Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Lukas 24: 32

Berapa banyak perjumpaan yang kita alami setiap harinya? Dalam kondisi “normal” orang dewasa yang masih aktif, rata-rata berjumpa dengan puluhan hingga ratusan orang setiap harinya, baik hanya berpapasan maupun berkomunikasi dengan intens. Pertanyaannya, berapa banyak dari perjumpaan tersebut yang sungguh mengubah hidup kita? Berapa banyak kita berbagi cerita kehidupan dan pengalaman iman kita bersama dengan Tuhan?

Dalam Lukas 24: 13 – 35, para murid ada dalam kondisi ketakutan, kebingungan dan kehilangan harapan. Kleopas berkata, “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.” Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Ia tampak mengubur harapannya dan berupaya memahami realita yang ada bahwa Yesus wafat. Namun semua ini berubah ketika Yesus hadir dalam perjalanan mereka dan mengingatkan kembali mengenai nubuatan akan Sang Mesias. Firman Tuhan membuat mata mereka terbuka dan membuat hidup mereka kembali bergairah.

Perjalanan ke Emaus layaknya perjalanan kehidupan yang kadang kita lalui. Tidak jarang pengalaman hidup membuat kita kehilangan harapan, seperti kedua pengikut Yesus. Kita dibutakan dan tidak dapat melihat jalan keluar dari masalah kehidupan. Namun, dengan berinteraksi dengan Yesus, kita memiliki harapan dan dapat melihat jalan keluar dari kesulitan kita. Bahkan, ketika kita membuka diri untuk mengenal-Nya, seperti Kleopas dan rekannya, kita akan mengalami pertumbuhan iman yang lebih dalam. Ada gairah baru dalam menjalani kehidupan, karena kita menyadari Yesus sudah bangkit dari kematian. Karena itu “kematian-kematian kecil” dalam bentuk pergumulan dan tantangan iman kiranya tidak membuat kita berputus asa. Kita semakin menyadari bahwa Ia hadir dan berjalan bersama kita, lewat orang-orang di sekitar kita dan lewat beragam peristiwa.

Setelah mengenali Yesus, sekalipun Yesus lenyap dari hadapan mereka, hati mereka berkobar-kobar. Mereka bersemangat untuk membagikan apa yang mereka alami kepada rekan-rekan yang lainnya, yang berada di Yerusalem, sekalipun mereka sudah tiba di tempat tujuan mereka, Emaus. Jarak yang harus ditempuh kembali ke Yerusalem adalah tujuh mil, tetapi mereka tidak mau menyimpan kabar baik itu sendiri. Ketika mereka tiba di Yerusalem, mereka berbagi pengalaman yang membuat mereka terus berharap.

Inilah natur Injil, berita sukacita itu belum sepenuhnya kita alami ketika saat belum dibagikan pada yang lain. Perjalanan yang sebelumnya terasa jauh, melelahkan karena kehilangan harapan, menjadi sesuatu yang menggairahkan karena mereka ingin membagikan berita tersebut kepada murid lainnya. Sukacita seorang murid Kristus adalah bahwa ia hidup dalam persekutuan orang-orang yang telah berjumpa dengan Yesus. Ada yang mengatakan bahwa persahabatan yang sejati dimulai hanya ketika orang-orang berbagi kenangan bersama dan dapat saling berkata, “Apakah kamu ingat?” Setiap dari kita adalah bagian dari persekutuan besar orang-orang yang berbagi pengalaman dan kenangan bersama Tuhan. Yuk, berjumpa dan mulai bercerita.

Pnt. Joshua Bernando, S.Si. (Teol)

ORANGTUA YANG BERGUMUL
“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas...