“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
(Lukas 22: 42)
Saya baru saja kehilangan anjing tercinta kami, yang bernama Melon, beberapa minggu lalu, pasca operasi pengangkatan tumor dan hernia pada tubuhnya. Hal ini membuat saya sangat shock dan kehilangan. Saya ingat setengah jam setelah saya pulang dari tempat perawatan Melon, dia masih baik-baik saja. Tiba-tiba pada saat sedang makan malam, dokter mengabarkan kami bahwa Melon meninggal. Saya sangat terpukul dan jujur saya tidak terima. Saya teringat ketika saya pulang dari tempat Melon dirawat, di mobil saya berdoa dan menangis memohon ke Tuhan agar Melon bisa pulih 100%. Saya juga mengatakan kepada Tuhan kalau saya tidak mau mengucapkan “Let Your will be done”. Trauma saya kehilangan mama ketika beliau dirawat di rumah sakit, sampai akhirnya dia meninggal dunia; saya mengucapkan kata-kata yang sama. Saya takut ketika saya mengucapkan kalimat tersebut, Melon akan meninggalkan kami. Tapi tetap saja, Tuhan memanggil Melon kembali ke sisi-Nya.
Sebenarnya hampir 2 minggu sebelumnya, Tuhan mengingatkan saya untuk berserah. Tiba-tiba saja lagu KJ. 364 bait yang pertama tiba-tiba terngiang di telinga saya:
Berserah kepada Yesus tubuh, roh dan jiwaku;
kukasihi, kupercaya, kuikuti Dia t’rus.
Aku berserah, aku berserah;
kepadaMu, Jurus’lamat, aku berserah!
Saya menyanyikan lagu ini ketika saya di kantor maupun sedang melakukan pekerjaan rumah. Akhirnya lagu itu berhenti ketika Melon selesai dioperasi dan dokter mengatakan bahwa kondisi Melon kritis karena ada pembusukan di usus dan pankreas. Kalimat “Let Your will be done” terus mengiang-ngiang di telinga, tapi saya menolaknya. Setelah kami membawa jenazah Melon pulang, saya menangis kepada Tuhan: Kenapa Tuhan ngajarin berserah kayak gini sih?!? Aku kan gak siap, aku gak ikhlas. Dari kejadian Melon, saya diingatkan bahwa dibutuhkan keikhlasan dalam berserah. Ketika saya ikhlas dan berserah, maka ada damai sejahtera dalam hidup ini.
Dari peristiwa kehilangan Melon, saya memahami betapa pentingnya kalimat Tuhan Yesus di atas kayu salib. Berserah memang tidak mudah dan kadang menyakitkan, namun Tuhan memiliki rencana untuk hidup kita, jalan pikiran-Nya tidak dapat kita selami. Kita tidak tahu apa yang menanti di depan, atau pun mungkin kita tidak mengerti kondisi kita yang sekarang, tapi ketika kita berserah kepada Tuhan, maka damai sejahtera pun akan tinggal di dalam diri kita. Sekarang saya sudah mengikhlaskan kepergian Melon, saya diajarkan kembali untuk berserah melalui cara yang tidak mudah untuk saya cerna. Dalam keberserahan kita tahu bahwa Tuhan yang sedang berperang untuk kita.
(Citra Surya)