Warta Minggu Ini
JANGAN MENUNDA KEBAIKAN

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu.”

Di suatu malam saya dihubungi oleh seorang pendeta untuk menanyakan apakah saya mempunyai seorang kenalan dokter di kota Pittsburgh, Pennsylvania. Istri teman pendeta ini baru saja menjalani operasi di kota tersebut, namun perlu konsultasi kepada dokter lain karena merasa kondisi tubuhnya masih kurang fit. Ketika saya menanyakan identitasnya, tak dinyana saya mengenal orangtuanya. Kebetulan saya memiliki seorang teman lama di Pittsburgh. Saya menghubungi teman lama ini dan ia dengan segera membantu istri teman si pendeta termasuk menemani ke dokter yang dikenalnya bertahun-tahun.

C.S. Lewis dalam bukunya The Four Loves menyebutkan ada empat macam jenis cinta: storge, philia, eros dan agape. Storge adalah cinta terhadap anggota keluarga; philia adalah cinta antara teman yang sifatnya akrab; eros adalah cinta yang berpusat diri; dan agape adalah cinta tak bersyarat yang menggambarkan kasih Allah pada manusia. Dalam interaksi sosial, penggambaran cinta ada pada phillia dan eros. Pada phillia, cinta itu sifatnya timbal-balik. Pada eros, cinta itu sifatnya satu arah. Pada masa sekarang ini, interaksi sosial lebih banyak didasari atas prinsip eros. Untuk orang yang dikenalnya saja, sangat jarang orang yang bersedia merugi, apalagi untuk orang yang tidak dikenalnya.

Amsal 3: 27-28 menggambarkan ada dua tipe orang: tipe pertama yang meminta kebaikan dan tipe kedua memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk menolak atau memberi kebaikan. Seringkali orang kedua menahan kebaikan untuk pihak pertama dengan berbagai alasan, antara lain: dia tidak pantas menerimanya; memberi kebaikan itu merugikan / menyusahkan; atau orang kedua mempunyai pengalaman buruk sebelumnya dalam berelasi dengan orang pertama. Karena itulah, maka interaksi sosial seringkali berbasis prasyarat, supaya tidak rugi, lebih baik impas atau malah untung.

Sesungguhnya dalam hidup ini kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk saling memberi bantuan. Bagi saya, kebaikan hati teman lama dalam menolong si pendeta menunjukkan kemurahan hati Tuhan. Begitu pula, bagi si pendeta, kehadiran saya dan kawan lama yang tinggal di Pittsburgh merupakan tangan kasih Tuhan yang hadir baginya. Bagi kawan lama saya tersebut, permintaan bantuan saya dan sang pendeta merupakan kesempatan baginya untuk menjadi berkat.

Kita masing-masing memiliki kemampuan untuk menolong orang lain menurut porsi kita. Tuhan sudah memberi berkat kepada kita, kita bisa menyalurkannya kepada siapa yang membutuhkan. Kita hanya perlu bersedia dan tak menunda untuk memberi bantuan. Semoga kita semua tidak menahan kebaikan dan bersedia dipakai Tuhan.

(Pnt. Tjetjep Djunaedi)

SEKALI LAGI, HIDUP BERARTI BERBUAH
“… mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih...