“Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!”“
(Yosua 10: 12)
Apakah kita perlu mengingatkan Tuhan untuk membangunkan fajar? Tentu saja tidak, sebab Tuhan Maha kuasa tidak akan lupa untuk mengatur kehidupan di bumi ini. Namun permintaan Yosua kepada Tuhan agar matahari dan bulan tidak bergerak sampai bangsa Israel berhasil menyelesaikan peperangan dengan orang Amori dikabulkan oleh Tuhan. Ayat selanjutnya dikatakan bahwa belum pernah ada hari seperti itu, baik dulu maupun kemudian, bahwa Tuhan mendengarkan permohonan seorang manusia. Ketika Tuhan yang berperang bagi Israel, sehingga matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh.
Kemenangan bangsa Israel bukan karena bangsa itu kuat tetapi karena penyertaan Tuhan. Tuhan yang memercayakan Yosua untuk berperang, telah memberikan kuasa kepadanya untuk memenangkan peperangan bahkan dengan cara melawan hukum alam. Tuhanlah yang menahan matahari dan bulan agar tidak bergerak supaya Yosua memiliki waktu yang cukup panjang untuk berperang di siang hari itu. Yosua percaya bahwa Tuhan Maha kuasa untuk menolongnya dengan cara yang ajaib.
Peristiwa spektakuler tersebut mengingatkan saya akan film fiksi satir berjudul Bruce Almighty. Film lawas yang diperankan Jim Carrey itu menceritakan Bruce yang diizinkan memiliki “kuasa” seperti Tuhan. Bruce yang merasa selama ini hidupnya dirundung kesialan langsung menggunakan kuasanya sesuai keinginan hatinya sendiri. Salah satu yang dilakukan Bruce adalah mendekatkan bulan ke bumi hanya untuk membuat suasana romantis dengan pasangannya. Tentu saja perbuatannya menyebabkan di tempat lain terjadi bencana tsunami. Ternyata bukan perkara mudah bagi manusia untuk memiliki kuasa seperti Tuhan yang mampu mengendalikan dunia ini dan seisinya.
Sikap Bruce bisa mewakili sikap kita terhadap Tuhan, kita ingin bebas melakukan segalanya tapi kita tidak mampu dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan kita. Keterbatasan kita sebagai manusia menempatkan kita pada kesadaran bahwa kita adalah makhluk lemah yang memerlukan Tuhan. Kita tidak bisa hidup tanpa anugerah kebaikan Tuhan. Jika kita merasa berhasil karena usaha kita, sebetulnya Tuhanlah yang memampukan kita sehingga kita tidak boleh jemawa atau sombong. Juga ketika kita merasa terpuruk karena masalah, kita tidak menjadi lemah; tetapi tetap memiliki pengharapan kepada Tuhan yang Maha kuasa yang tidak pernah meninggalkan kita. Soli Deo Gloria.
(Debby Puspita)