“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
(Amsal 17 : 17)
Siapakah yang mau mengasihi aku
Siapakah yang mau bersahabat denganku
Siapa peduli masalah hidupku
Siapa peduli masalah jiwaku
Reff: Yesus, Kau Sahabat, Sahabat yang setia
Yesus, Kau Sahabat, yang mengenal hatiku
Yesus, Kau Sahabat, mati bagiku
Yesus, Kau Sahabat orang berdosa
Kau Sahabat setia
Saya mendengarkan lagu ini yang dilantunkan oleh mantan artis lawas, Lies Saodah. Dalam suatu kesempatan, dia memberikan kesaksian bagaimana dia mengenal Yesus sebagai Tuhan. Ketika dia mengalami keterpurukan dalam hidupnya dan nyawanya sempat terancam, karena orang yang paling dekat dengannya mau membunuhnya dan anak yang ada di kandungannya, dia merasakan hanya Yesus, Sahabat yang mengerti dan peduli pergumulan hidup yang dialaminya. Tidak ada sahabat yang ditemuinya di dunia seperti Yesus, Sahabat sejati.
Saya pun setuju dengan kesaksian Lies Saodah bahwa hanya Yesus Sahabat setia, yang selalu beserta dengan kita. Dia mau menjadi Sahabat kita, memberikan hidup-Nya untuk kita dan tidak pernah meninggalkan kita seorang diri menjalani hidup ini. Dia selalu mendengar doa kita dan menuntun kita di jalan yang benar. Yesus Sahabat setia kita, apakah kita juga sahabat setia-Nya?
Menjadi sahabat Yesus, berarti kita mengasihi Dia dengan jalan melakukan Firman-Nya. Salah satu perintah-Nya adalah panggilan untuk menjadi sahabat bagi sesama. Kita semua memerlukan sahabat, sosok yang mau membuka hati, telinga, menerima dan mendengar pergumulan hidup kita. Dengan sahabat, kita bisa berbagi suka-duka hidup ini. Menjadi sahabat tidak selalu harus bersama-sama sepanjang waktu karena keterbatasan waktu yang kita miliki. Tetapi kita bisa setiap saat tetap mau peduli dan menolong ketika mereka memerlukan kita.
Ada banyak tokoh dunia ini yang menunjukkan persahabatan sejati kepada sesama dengan meniru Tuhan Yesus. Salah satunya adalah Bunda Teresa. Mungkin apa yang kita lakukan tidak sebesar apa yang dilakukan beliau, menjadi sahabat bagi kaum yang terpinggirkan; namun kita bisa memulainya dari apa yang bisa kita lakukan dengan setia. Belajar menerima sesama kita apa adanya, bukan ada apanya. Tugas mulia, Tuhan Yesus percayakan kepada kita karena kita adalah sahabat-Nya, walaupun tidak mudah, tetapi dengan hikmat dan pertolongan-Nya, kita bisa melakukannya.
Panggilan persahabatan ini pun dihayati oleh gereja kita. Dengan misi GKI Kayu Putih saat ini, yaitu “Jemaat yang percaya pada Allah, terbuka, menyahabati setiap ciptaan dan mengupayakan pembaruan hidup,” panggilan persahabatan menjadi gerak kita bersama. Mulailah dengan sesama yang dekat di sekitar kita. Lakukan dan tunjukkan persahabatan yang sejati. “Semua sahabat, sahabat semua”.
Kiranya Tuhan memberkati kita bersama.
(Debby Puspita)