Warta Minggu Ini
PEMURNIAN DARI KEMARAHAN (Renungan Seri Doa Pentakosta), Rabu, 16 Mei 2018

Siapapun bisa marah. Tak ada seorang pun di dunia ini, rasanya, yang tak pernah marah. Marah adalah ekspresi emosi yang manusiawi. Ada banyak alasan kita marah. Namun, yang pasti, kemarahan adalah ekspresi kekecewaan dari kondisi yang tak seperti kita bayangkan dan inginkan. Kemarahan adalah buah dari rasa jengkel ‘tingkat tinggi’ terhadap perilaku seseorang yang melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang kita harapkan. Kemarahan juga merupakan ekspresi dari rasa bersalah pada diri sendiri atas kebodohan yang kita lakukan.

Yang berbahaya dari kemarahan adalah cara menyalurkan rasa marah. Ada orang yang menyalurkan kemarahan dengan merusak, menyakiti, dan melukai ciptaan lain dan sesamanya. Dia ingin rasa sakit dan luka itu dialami juga oleh pihak lain. Seolah ada rasa dendam yang ingin disampaikan: “kalau saya terluka, kamu juga harus terluka.” Saat kita menyalurkan kemarahan yang diikuti dengan dendam, kita telah menjadikan sesama kita obyek. Artinya, kekerasan dan kemarahan itu menjadi berkali lipat merusak hidup kita dan sesama. Sayangnya, orang-orang seperti ini ada di sekitar kita. Mereka merusak persekutuan dan menindas sesamanya tanpa belas kasihan. Semakin orang terluka, maka mereka semakin puas. Akhirnya, kemarahan yang diikuti dendam menjadi habit dan karakter dari komunitas yang terluka.

Dalam Matius 21:12-17 Tuhan Yesus marah dan mengusir para pedagang serta penukar uang di Bait Allah. Ia mengajarkan kita cara menyalurkan kemarahan dengan tepat. Pertama, Yesus marah dengan alasan yang tepat, yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan spiritual. Dia marah karena Bait Allah dipakai untuk mencari keuntungan para pedagang dan para imam yang korup. Kedua, Yesus menyalurkan rasa marah dengan cara menyembuhkan sesama. Sesaat setelah Yesus membersihkan Bait Allah, Yesus melihat ada orang-orang buta dan timpang yang memohon kesembuhan kepada Tuhan. Yesus yang marah, mendatangi dan menyembuhkan mereka. Inilah cara kudus yang diajarkan-Nya saat kita marah. Saat kita marah terhadap kekerasan, ketidakadilan, kejahatan yang terjadi pada diri kita maupun orang lain; kita dipanggil untuk menyalurkannya dengan menjadi penyembuh bagi para korban dan pemulih bagi keadaan yang rusak. Cara kudus ala Yesus ini mengajak kita untuk menghentikan kejahatan; kemarahan tak boleh menular dan tidak bisa dibiarkan menjadi kebiasaan. Berkaca dari Tuhan Yesus, maka pertanyaan reflektif bagi kita saat kita marah adalah apakah alasan saya marah dapat saya pertanggungjawabkan secara moral dan spiritual? Apakah ekspresi rasa marah saya telah menyembuhkan diri sendiri dan sesama; bahkan menjadi pemulih dari kejahatan yang ada dalam dunia saya?

Pemurnian diri dari kemarahan memiliki dampak positif bagi diri sendiri, bagi relasi kita dengan Tuhan dan sesama bahkan dunia kita. Karena pemurnian dari kemarahan, pertama-tama, akan memelihara kedamaian dalam diri kita sendiri. Sebuah kalimat bijak mengajarkan kita: “For every minute you remain angry,you give up sixty seconds of peace in minds.”

Pokok doa:

  1. Mohon ampun apabila kita marah karena alasan yang tidak tepat
  2. Mohon Tuhan menolong kita untuk mengampuni orang yang melampiaskan kemarahannya kepada kita.
  3. Bersyukur untuk acara SDP semakin banyak jemaat yang hadir dan mohon Tuhan menyertai acara SDP hari yang ketiga serta jemaat semakin baik dalam kehidupan doanya.
  4. Kesatuan Bangsa Indonesia dalam menghadapi radikalisme dan terrorisme

 

GARAM DI ATAS LUKA
“Kata Yesus kepadanya: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” (Lukas 19...