“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
(Kolose 3 : 14)
Melihat tayangan info acara Retreat Pasutri yang akan diadakan bulan September yang akan datang, aku jadi teringat pada tahun 2002, saat aku dan suami mendaftarkan diri menjadi peserta retreat pasutri yang diselenggarakan GKI Samanhudi. Pada saat itu usia pernikahan kami 36 tahun, dan kami pun sudah memiliki enam cucu. Sempat kami berpikir, untuk apa lagi mengikuti retreat pasutri sebab kami sudah lama menikah. Kami bukan pasangan yang muda lagi, bahkan sudah menjadi pasangan lansia yang sudah makan asam garam kehidupan berkeluarga. Aku pun merasa tidak ada masalah dalam pernikahan kami; bahkan kami selalu dicap sebagai pasangan yang harmonis karena selalu berdua di manapun dan kapanpun kami berada. Akhirnya saya dan suami mengikuti retreat ini karena “dipaksa” oleh anak-anak. Mereka mengatakan retreat ini bagus sekali walau tidak memberi informasi lengkap apa saja yang akan kami lakukan selama retreat berlangsung.
Ternyata acaranya sungguh luar biasa. Kami mendapatkan banyak sekali hal yang sangat berguna bagi kehidupan pernikahan kami. Pada awalnya kami merasa sia-sia ikut dalam retreat ini, tapi ternyata setiap sesi yang kami ikuti semakin memperkuat hubungan cinta kami. Dalam salah satu kesempatan di retreat tersebut, saya terkejut ketika suami saya berkata:
“Sayangku, tidak sia-sia kita mengikuti retreat pasutri ini ya. Karena begitu banyak
yang kita peroleh. Semakin aku memahami siapa diriku dan siapa dirimu. Dan itupun
yang membuat aku semakin sayang padamu. Hanya ucapan syukur pada Tuhan
untuk apa yang sudah kuperoleh hidup bersamamu. Dengan segala kekurangan dan
kelebihanmu, aku menerimamu sebagaimana engkau ada. Dan untuk segala
kekuranganku, kiranya engkau mau menerima dan memaafkannya. Aku mengasihimu,
seperti aku mengasihi diriku sendiri. Terima kasih atas cintamu padaku.”
Sangat terharu sekali saya mendengarnya, dan saya pun mengungkapkan kepadanya bahwa saya bersyukur bisa mengenal lebih dalam pribadi suami dan diri saya sendiri. Selama ini saya berpikir bahwa kami sudah saling mengenal dan mengerti satu sama lain. Semakin saya mengenal pribadi suami semakin saya mencintainya. Sesudah retreat ini, hubungan cinta kasih kami diperbaharui dan dikuatkan. Di antara kami semakin ada keterbukaan, saling menerima dan saling mengasihi. Itulah yang membuat kami senantiasa bersukacita, berdoa dan mengucap syukur dalam segala hal yang dialami dalam kehidupan pernikahan kami.
Tepat di usia pernikahan kami selama 49 tahun lebih 1 bulan suami saya yang terkasih dipanggil Tuhan pada tahun 2015. Saya merasa kehilangan sekali, rasanya separuh hidup saya sudah pergi. Walaupun dia tidak ada bersama saya lagi tapi kasihnya selalu saya rasakan. Kata-kata cintanya pun tetap saya kenang selalu, seperti aku menyimpan cintanya dalam hatiku.
Pengalaman saya bersama suami terkasih merupakan perjalanan kebersamaan yang indah, yang diikatkan oleh kasih. Allah memberikan cinta di antara kami berdua. Kasih itu menyatukan kami yang berbeda, bahkan membuat kami saling menerima apa adanya. Inilah kesempurnaan kasih yang saya rasakan ketika bersama suami. Ini pulalah yang dijelaskan rasul Paulus kepada Jemaat Kolose.
“Terima kasih Tuhan untuk pasangan hidup yang luar biasa, yang sudah menerima saya sebagaimana saya ada.”
(Erika Tambunan)