“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
(Lukas 4 : 18 – 19)
Ketika keluarga kami mengalami duka, seakan-akan ada awan yang menyelubungi pikiran dan hati kami. Sama sekali tidak mudah mengambil keputusan, tetapi ada begitu banyak keputusan yang harus diambil, misalnya peti macam apa, jenis penguburan dan di mana, atau kapan kebaktian penghiburannya. Belum lagi semua surat yang harus disiapkan. Dari pengalaman itu, saya menyimpulkan bahwa keluarga yang berduka seharusnya dikurangi bebannya. Pelayanan dan bantuan dari para sahabat, tetangga bahkan orang yang tidak kenal sekalipun sungguh melegakan hati kita. Sebaliknya, ketika dalam keadaan duka, namun jika ada orang-orang yang mau membantu tapi asal sejalan atau sepemahaman dengannya. Sungguh tindakan mereka bukan melegakan malahan menawan orang lain yang berduka. Ini artinya menjadikan keluarga yang berduka sebagai tawanan.
Ayat di atas diucapkan Yesus di awal pelayanan-Nya di dalam sebuah rumah ibadat. Kalimat yang Yesus sampaikan memberikan suatu kelegaan yang luar biasa. Ia tidak menawan jemaat di rumah ibadat itu, Ia tidak mematikan harapan, namun sebaliknya, Ia menyembuhkan dan Ia membebaskan. Yesus tidak memberikan suatu syarat dan kondisi apapun untuk mengalami semuanya, Ia menyediakannya bagi siapapun.
Membandingkan antara kelegaan dan tawanan, tidaklah sulit untuk memilih yang mana yang hendak kita alami. Di lain sisi, kita didorong secara aktif untuk melakukan hal yang sama seperti Yesus, yakni membebaskan dan bukannya menawan. Pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan hal yang sama seperti Yesus?
Penawanan terjadi ketika seseorang hendak memiliki jaminan bahwa suatu perjanjian atau tuntutannya dipenuhi dengan menahan paksa orang lain atau suatu benda disertai ancaman. Penawanan tidak memberi ruang untuk orang lain dan mengemukakan hanya diri sendiri. Penawanan memaksa orang lain melakukan berbagai hal untuk menyenangkan diri sendiri. Jika melihat definisi ini, maka saya harus mengakui dalam skala tertentu saya pernah melakukan penawanan. Saya juga pernah memberi beban tak perlu pada orang lain demi suatu kepentingan.
Ayat di atas tidak berhenti dari sekadar kita melepaskan orang lain dari beban yang tak perlu. Pesan Kristus ada pada kalimat terakhir: ‘tahun rahmat Tuhan sudah datang’. Ini artinya setiap pengikut Kristus didorong meneladani-Nya dengan menyampaikan kebaikan Tuhan bagi sesama itu tersedia – lewat diri kita secara nyata.
Kita didorong untuk memberi kelegaan bagi orang lain lewat kebaikan yang bisa kita berikan lewat talenta, keterampilan, latar belakang ekonomi, pendidikan – apa saja yang kita miliki. Sekarang, selama hari masih siang, mari sampaikan tahun rahmat Tuhan telah datang kepada sesama. Paska yang kita rayakan hari ini adalah simbol ‘tahun rahmat Tuhan telah datang’ dalam hidup kita. Dia telah membebaskan kita. Selamat Paska.
(Novi Lasi)