Warta Minggu Ini
MENYAMBUT PANGGILAN ALLAH

“Yesus berkata kepada mereka; “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”.”
(Matius 4 : 19)

Beberapa waktu lalu di televisi, saya melihat pak Jokowi mengajak seorang tokoh agama untuk makan siang bersamanya di istana. Bayangkan bila Presiden mengajak kita untuk makan siang bersamanya, pasti kita langsung menerima undangannya tanpa ragu. Karena ajakan seperti itu kita anggap sebagai hal yang sangat bergengsi dan kita mendapat kehormatan atas undangan tersebut. Kita akan mengabadikan momen tersebut dengan ber-‘selfie’ atau ber-‘wefie’ ria serta dengan segera kita akan menyebarluaskan foto-foto tersebut kepada seluruh kerabat.

Dalam Alkitab, kita juga menyaksikan respons para murid Yesus saat Yesus memanggil mereka menjadi murid-Nya. Simon Petrus dan Andreas segera merespons spontan dengan meninggalkan pekerjaan saat itu sebagai nelayan. Berbeda dengan Musa dalam kitab Keluaran, kedua murid ini langsung menerima tawaran tanpa ragu. Yesus memanggil mereka dengan memberikan makna baru pada panggilan sebagai nelayan, yaitu dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Kita memang tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan mereka menerima panggilan Tuhan. Mungkin saja mereka pikir tawaran ini sangat menarik karena bukan ikan yang harus mereka ‘tangkap’ tapi manusia. Hal ini membuat mereka penasaran. Atau bisa saja mereka berpikir panggilan ini begitu bergengsi buat mereka. Apapun pertimbangan mereka, tapi yang pasti panggilan selalu berhubungan dengan kepercayaan. Para murid mendapat kepercayaan dan kehormatan dari Allah melalui panggilan Yesus kepada mereka.

Panggilan Allah untuk menjadi penjala manusia berlaku untuk kita semua. Bila Dia mengajak kita untuk menjalani panggilan tersebut, apakah undangan ini kita anggap bergengsi? Apakah kita merasa terhormat dan mendapat kepercayaan? Jika kita merasakan panggilan Allah merupakan hal yang positif, pastinya kita akan mengerjakan panggilan itu dengan penuh tanggung jawab. Kita akan berupaya menjalankan panggilan tersebut untuk menyatakan kasih Allah melalui perkataan maupun perilaku Kristiani kita. Kita mencontoh perilaku Yesus sebagai role model hidup kita dengan sesama. Inilah artinya panggilan menjadi penjala manusia kita terima tanpa ragu.

Yang menjadi tantangan adalah kadang kita merasa belum mampu atau kita tidak cukup layak untuk menerima panggilan tersebut. Tuhan tidak menuntut kita menjadi pendeta dengan kemampuan berkhotbahnya, baru mampu menjadi penjala manusia. Dia memanggil kita sesuai dengan kemampuan dan talenta yang diberikan-Nya. Dia tidak menuntut kita untuk sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Cukup bagi kita memohonkan tuntunan-Nya, bekerja dengan serius dan penuh tanggung jawab, serta rendah hati untuk menerima panggilan tersebut. Mari kita belajar seperti Simon dan Andreas yang langsung merespons panggilan-Nya tanpa keraguan. Tuhan memberkati kita.

(David I. Situmeang)

KASIH-MU TIADA DUANYA
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3: 22 – 23)...