“Sion berkata: “TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.” Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.”
(Yesaya 49 : 14 – 16)
Seorang ibu menasihati putrinya yang baru saja diputus begitu saja oleh tunangannya, “Nak, dunia tidak selebar daun kelor. Kamu pasti menemukan laki-laki lain yang lebih baik.” Nasihat itu rasanya sangat tidak pas buat sang anak yang merasa dunianya hancur, tidak peduli apakah dunianya selebar daun kelor atau tidak. Baju pengantin sudah siap, undangan sudah dicetak, gedung sudah disewa. Ia tidak mengerti mengapa ia diputus tiba-tiba dengan penjelasan ‘aku tidak sayang lagi sama kamu’. Hanya karena ia sayang pada orangtuanya, ia berhenti berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Setiap hari ia berseru pada Tuhan, meminta Tuhan mengembalikan tunangannya bahkan memohon supaya Natal tahun itu hadiah Tuhan untuknya adalah tunangannya kembali mencintainya. Perempuan muda itu menjalani satu tahun berlalu dengan berat, rasanya dunia memang selebar daun kelor, sebab ia setiap minggu melihat mantan tunangannya di gereja yang bersikap biasa, seakan tidak terjadi apa-apa. Ia merasa entah mengapa Tuhan tidak menjawab doanya, Tuhan melupakannya.
“Sama-sama satu iman, sudah lahir baru, bertumbuh dalam pelayanan di gereja, masakan bisa putus?” Mungkin pemikiran seperti ini ada di benak kita sebagai orang Kristen. Masalahnya, putus ternyata bukan soal urusan Kristen atau non-Kristen saja. Pasangan Kristiani ada juga yang mengalami putus hubungan bahkan lebih dari satu kali. Putus hubungan bukan hal salah, namun hal ini menjadi persoalan kalau kemudian kita menjadi kapok – kapok memilih pasangan seiman, kapok ke gereja, kapok dengan Tuhan -. Kapok adalah jalan keluar yang paling mudah, suatu cara manusia untuk melindungi diri dari berulangnya rasa sakit. Kapok juga berarti mengatakan kepada Tuhan bahwa ‘aku tidak pantas mengalami hal ini’.
Dalam Roma 8 : 35, Rasul Paulus punya pandangan lain soal penderitaan. Ia mengatakan bahwa tidak penting jenis penderitaan yang manusia alami. Hal yang perlu manusia hayati adalah manusia tidak pernah berjalan sendiri dalam deritanya dan yang utama adalah kasih Tuhan tak pernah putus kepada manusia saat ia menderita. Seperti jawaban Tuhan atas kesedihan Israel yang merasa sendiri dalam derita, bahwa melupakan ciptaan-Nya adalah hal yang mustahil dilakukan Tuhan. Saya membayangkan ketika perempuan muda itu mengalami sakit hati yang dalam, bahkan lukanya tak kunjung sembuh sebab tiap minggu melihat mantannya di gereja, Tuhan merajutnya dalam kasih, melindunginya dan memberinya kesembuhan.
Jadi jika sekarang Anda sedang putus cinta, padahal bulan Februari ini katanya bulan cinta. Mungkin Anda sekarang ini sedang merasakan menderitanya putus cinta. Ketahuilah bahwa saat ini Anda sedang dirajut dalam kasih Tuhan dan Ia akan memberi akhir yang baik. Percayalah. Happy Valentine Day. Selamat merajut kasih.
(Novi Lasi)