“Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah!
(Lukas 12 : 31 – 33a)
Terkait pemenuhan kebutuhan hidup, setidaknya kita bisa menjumpai dua tipe manusia. Yang pertama adalah mereka yang penuh ambisi mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Tipe macam ini selalu merasa tidak cukup dan ambisi yang dimilikinya justru berakhir pada ketamakan. Kekayaan menguasasi dirinya sehingga menggantungkan hidup pada materi yang dimilikinya. Di sisi yang lain, ada tipe yang malah pesimis dengan hidupnya. Tipe macam ini hidup dalam tekanan kebutuhan hidup. Karena itu, pesimisme semacam ini kerap berujung pada kekuatiran hidup! Kedua situasi tersebut bukan hanya realita kita sekarang ini, namun juga kondisi orang banyak yang berada di sekitar Yesus saat itu (Lukas 12), saat di mana pemerintahan Romawi menguasai dan menjajah mereka. Itulah tatanan kehidupan pemerintahan Romawi, di mana materi menjadi prioritas sekaligus menjadi ukuran utama.
Yesus mengajarkan sebuah tatanan dunia dan kehidupan baru, di mana Allah yang menjadi penguasa kehidupan mereka yaitu Pemerintahan Allah, bukan ketamakan ataupun kekuatiran. Sebuah tatanan kehidupan yang jelas berbeda dengan Pemerintahan Romawi! Pemerintahan Allah berdasar dan berpusat pada Allah sendiri. Mereka yang hidup sebagai warga Pemerintahan Allah tidak lagi menggantungkan hidupnya pada materi, namun memercayakan hidup dan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Hidup lebih penting dari sekedar materi dan Allah mengetahui perkara itu (ay. 30). Inilah hidup yang sejati dan harus menjadi prioritas pengikut Yesus! Karena itulah, Yesus berkata: “Carilah kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu” (ay. 31). Lalu, bagaimana kita hidup dalam Kerajaan Allah?
(1) Pemerintahan Allah : melampaui pesimisme
Janganlah takut (ay. 32). Kepada mereka yang hidup dalam kekuatiran, Yesus memberikan pengharapan sebab kehendak dan rencana Bapa melampaui pesimisme akan kebutuhan hidup yang telah menguasai mereka. Ia tahu dan peduli akan kebutuhan anak-anak-Nya. Dengan demikian, di dalam Pemerintahan Allah, pesimisme diubah menjadi hidup yang berpengharapan.
(2) Pemerintahan Allah : transformasi ambisi
“Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah” (ay. 33). Kepada mereka yang menempatkan materi sebagai segala-galanya, Yesus mengajarkan agar mereka mengarahkan ambisi dengan benar, bukan demi kepentingan sendiri, namun juga demi sesama yang membutuhkan. Ketamakan seringkali membutakan seseorang terhadap realitas. Karena itu mereka yang hidup dalam Pemerintahan Allah harus membuka mata mereka dan melihat realitas bahwa banyak orang membutuhkan uluran kasih dan pertolongan. Dalam Pemerintahan Allah, ketamakan diubah menjadi kerelaan.
Sekarang, apakah Pemerintahan Allah untuk diri kita sendiri saja? Inilah tugas yang harus kita perjuangkan sekarang! Terlebih, jika minggu ini diperingati sebagai Minggu Kristus Raja! Kita diajak untuk menghadirkan Pemerintahan Allah agar semakin banyak orang mengalami transformasi kehidupan dengan menjadikan Yesus sebagai Raja dalam kehidupan kita ini.
(Fajar Junianto, M.Si (Teol))