Lagi katanya kepada ayahnya: “Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.”
(Hakim-hakim 11 : 37)
Sebagai orang Kristen, kita memiliki idealisme memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan. Barangkali sudah puluhan bahkan ratusan kali kita mengucapkan janji, bahkan nazar, kepada Tuhan untuk memberikan persembahan waktu, tenaga, materi dan hidup kita kepada-Nya. Namun puluhan dan ratusan kali pula kita tidak mampu memenuhi janji kita tersebut. Ada banyak alasannya. Pertanyaannya, mengapa memberi yang terbaik kepada Tuhan begitu sulit dilakukan?
Yefta, hakim Allah, membuat janji yang sulit digenapinya kepada Tuhan. Masalahnya dia bernazar kalau Tuhan memberi kemenangan kepadanya, apapun yang pertama kali menyambutnya di halaman rumahnya, dia akan mempersembahkan kepada Tuhan sebagai korban bakaran. Betapa menyesalnya dia mengucapkan nazar itu ketika anak gadisnya menjadi orang yang pertama menyambutnya di pelataran rumahnya. Dia tidak mungkin lari dari janjinya. Anak gadisnya bersedia menjadi korban persembahan kepada Tuhan. Artinya, dia bersedia menjadi milik Tuhan dan tidak akan menikah sebagai bagian dari tradisi korban bakaran Yefta kepada Tuhan.
Menariknya, anak gadis Yefta meminta izin kepada ayahnya untuk menangisi kegadisannya sebelum dia dipersembahkan kepada Tuhan. Waktu saya membaca teks ini, muncul pertanyaan dalam pikiran saya: mengapa si gadis menangis dan meminta waktu yang lama untuk menjadi korban persembahan kepada Tuhan? Apakah sebenarnya dia tidak rela? Apakah terlalu berat baginya memberikan persembahan kepada Tuhan? Bukankah seharusnya dia gembira karena dia sedang memberi kepada Tuhan?
Dalam tradisi Yahudi memberi kepada Tuhan apalagi menjadi korban bakaran, nilainya sama dengan memberi seluruh diri dan hidupnya. Tak heran bila anak Yefta menangis sebelum dipersembahkan kepada Tuhan. Inilah kunci persembahan yang terbaik. Tidak mudah, karena ada bagian dari diri kita yang kita berikan, biasanya bagian yang seringkali kita genggam erat, karena kita takut kehilangannya. Kadang amat pahit karena kita harus membiarkan rasa nyaman dan aman hilang dari diri kita. Kadang membuat kita terluka karena mimpi kita pun menjadi bagian dari yang kita berikan kepada Tuhan.
Tanggal 8 Oktober menjadi momen spesial bagi GKI Kayu Putih. Tahun ini perjalanan kita sebagai gereja memasuki usia 36 tahun. Kita bersyukur untuk perjalanan yang Tuhan anugerahkan kepada kita sebagai gereja-Nya. Barangkali saat kita bersyukur, sebagai gereja memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan menjadi doa yang kita ungkapkan sekarang. Saat kita katakan, gereja kita memberi persembahan yang terbaik dengan menjadi gereja yang menyahabati sesama, siapkah kita terganggu zona nyaman kita sebab orang-orang asing (mereka yang berbeda, kaum disabilitas, mereka yang dikategorikan sebagai pendosa), yang tak terduga datang dalam komunitas kita? Sudikah kita kehilangan sesuatu yang selama ini kita genggam erat (kesombongan, pride, materi, kesuksesan) bagi sesama yang mencari kasih Allah di dalam dan di luar gereja? Saya ingat perkataan Bunda Teresa, “Love (to God and to others), to be real, must cost, it must hurt, it must empty us of self.” Salam dan cinta saya dari tempat yang jauh.
(Pdt. Linna Gunawan)