ANTISIPASI MELANGGAR

“Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: ‘Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?” (Yesaya 29: 15)


Beberapa waktu yang lalu dalam perjalanan dari kantor saya mengamati pengendara motor yang berseliweran di antara mobil di jalan macet. Selama perhentian menunggu giliran bergerak, saya menghitung ada 12 motor tanpa plat nomor belakang. Itu di Tangerang. Memasuki Jakarta keluar dari tol, jumlah motor tanpa plat nomor belakang tambah banyak. Suami saya menjelaskan mereka itu khawatir tertangkap kamera lalu lintas dan harus membayar denda jika melanggar aturan lalu lintas.

Saya berpikir berarti mereka mengantisipasi pelanggaran lalu lintas yang akan mereka lakukan. Berarti mereka juga merencanakan untuk tidak menanggung konsekuensi pelanggaran mereka. Pola pikir macam apa yang mereka miliki ini sehingga kesalahan diantisipasi untuk dilakukan dan lari dari konsekuensinya sudah direncanakan sebelum kesalahan dilakukan. Bahasa Inggis punya istilah untuk perilaku ini: premeditated deceit (PD).

Saya seharusnya tidak perlu heran sebab PD sudah dilakukan manusia sejak dosa mencengkeram manusia. Yakub dan Ribka memperdaya Ishak dan Esau, Laban memperdaya Yakub, saudara-saudara Yusuf memperdaya Yakub, Ananias dan Safira memperdaya para Rasul. Kesalahan biasa, misalnya berbohong merujuk kepada kelemahan manusia, tetapi PD membutuhkan waktu untuk merancangnya, ada pilihan sadar, kemampuan pikir dan maksud jahat. PD merusak trust – kontrak sosial kita adalah manusia pada dasarnya berkata jujur, misalnya pedagang beras benar-benar menakar beras yang kita beli atau bank akan menjaga tabungan kita. Akibatnya PD membuat korbannya berhenti percaya pada siapapun. Kasus penggelapan tabungan sebuah gereja menjadi contoh sederhana hilangnya trust. PD tidak hanya berimbas pada korbannya, tetapi juga pada pelakunya. Pelaku PD menekan hati nuraninya sehingga ia kehilangan perspektif benar salah.

Tuhan Yesus secara spesifik menyatakan apapun yang ada pada diri kita namun menyesatkan, lebih baik dipotong / dicungkil (Mat. 5: 29, Mat. 18: 8). Suatu hal yang logis jika kita ingin masuk ke kehidupan kekal yang kudus untuk apa membawa hal-hal yang memberati kita. Tidak ada penyesatan di dalam Tuhan yang kita junjung. Jadi mengapa kita merancangkan penyesatan sekecil / seremeh apapun, termasuk melepaskan plat nomor belakang kendaraan kita.

Jangan antisipasi melakukan pelanggaran, antisipasilah membawa kemuliaan buat Tuhan. Kita dipanggil untuk memuliakan Tuhan, maka marilah kita merencanakan semua yang baik dan benar bagi-Nya. Jikapun kita dihukum karena kita melakukan kesalahan, hukuman itu mendidik kita menjadi pribadi yang lebih baik.

“Namun, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2: 20)

 

(Novi F. Lasi)

KIDUNG PASKAH
. . . . Kunyalakan lilin di hatiku, serindu aku padamu, kumaknai diriku untuk-Mu. Kujagai api di hatiku, lepaskan...