Warta Minggu Ini
LES MISERABLES DAN PASKAH

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5: 17)


Les Miserables adalah judul sebuah novel epik mahakarya Victor Hugo yang diterbitkan pada tahun 1862. Tokoh di novel tersebut bernama Jean Valjean yang dihukum kerja paksa dalam penjara selama 19 tahun karena awalnya hanya mencuri sepotong roti demi memberi makan saudaranya. Penjara mengubahnya menjadi pria yang penuh kebencian dan kepahitan. Setelah bebas, dia membawa “paspor kuning” yang menandainya sebagai mantan narapidana. Dia ditolak di mana-mana, tidak bisa mendapat pekerjaan dan menjadikannya sebagai orang buangan. Momen krusial dalam hidupnya terjadi ketika Valjean ditampung oleh Uskup Myriel. Tetapi kebaikan sang Uskup dibalasnya dengan mencuri peralatan perak sang Uskup. Ketika ditangkap polisi, diluar dugaan Uskup Myriel justru membelanya sehingga dia selamat dari hukuman. Uskup Myriel berkata bahwa dia telah “membeli” jiwa Valjean dari kegelapan kepada terang. Inilah momen kebangkitan Valjean, dia merobek paspor kuningnya, mengubah identitasnya menjadi Monsieur Madeleine yang baik hati. Kebencian dan kepahitan dalam hatinya diganti dengan kasih. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Momen penting dalam rangkaian perayaan Paskah baru saja kita lewati. Paskah adalah tonggak fundamental bagi iman Kristiani dimana kebangkitan Kristus adalah kemenangan atas maut dan dosa. Terjadi transformasi dari kehidupan yang gelap menuju terang. Value yang terkandung didalam kisah Paskah harus tetap terpelihara dan membara. Menghadapi kerasnya kehidupan, kalau api kebangkitan Kristus itu tidak menyala, maka di depan kita akan terlihat gelap dan kita akan rawan mengalami benturan yang membuat kita jatuh atau bahkan remuk.

Les Miserables banyak bercerita tentang kemalangan dan keterpurukan. Paskah bercerita tentang kebangkitan dan kemenangan. Memang kadang Tuhan mengijinkan kita mengalami fase keterpurukan sebelum kita bangkit, Tuhan mengijinkan kita melewati “lembah kekelaman” seperti Jean Valjean sebelum kita mendapatkan kemenangan. Beberapa kata-kata bijak mengatakan:

  • Bagaimana kita merasakan arti kenyang kalau kita tidak pernah lapar. 
  • Bagaimana kita merasakan sehat kalau kita tidak pernah sakit.
  • Bagaimana kita merasakan berhasil kalau kita tidak pernah gagal.
  • Bagaimana kita merasakan kehidupan yang cukup kalau kita tidak pernah mengalami kesulitan ekonomi.

Value yang terkandung dalam Paskah diharapkan menjadikan kita manusia baru, yang siap menghadapi gempuran kehidupan sekeras apapun dengan Tuhan berjalan bersama kita.

Pnt. Eko Wahyu Andriastono

KIDUNG PASKAH
. . . . Kunyalakan lilin di hatiku, serindu aku padamu, kumaknai diriku untuk-Mu. Kujagai api di hatiku, lepaskan...