Warta Minggu Ini
MENGETAHUI HAL YANG BAIK, TIDAK SAMA DENGAN MELAKUKANNYA

“Sebab, menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak.” (Roma 7: 18b)


Dalam perjalanan mengantar anak-anak peserta katekisasi mengikuti retreat, seorang anak kelas 9 bertanya kepada saya, “Kak, kenapa ya ada kejahatan?”. Sebelum saya sempat mencerna pertanyaannya, anak itu masih meneruskan dengan pertanyaan berikut, “Coba ya kak, penjajah itu kan ada yang sanggup membunuh tapi kok bangsa mereka juga menyebarkan agama Kristen?” Perlu beberapa saat untuk saya berpikir sebelum menjawab. Walau tidak begitu yakin dengan jawaban saya. Saya mengajaknya mencoba mengingat pelajaran sejarah, saat orang di masa lalu, mulai tertarik menjelajahi dunia untuk menemukan tempat-tempat baru. Niat awal mungkin baik, namun ketika menemukan tempat baru yang kaya akan hasil bumi, lalu timbul keinginan menguasai. Karena merasa belum cukup mengambil sedikit hasil bumi setempat. Penduduk setempat melakukan perlawanan, jadilah perang, penjajahan dan penindasan. Pertanyaan kedua dari anak ini, cukup kontradiksi dan saya memilih mengajaknya ngobrol tentang pertanyaan pertamanya.

Bahwa manusia pada dasarnya bisa mengetahui apa yang baik dan tidak. Membunuh, mencuri, berbohong dan sebagainya itu jelas perbuatan yang buruk. Keinginan hanya menjelajahi dunia, bisa berubah jadi keinginan menguasai karena ada kesempatan, merasa memiliki kemampuan, disertai keinginan yang tidak mengenal kata cukup. Sampai hari ini pun pola seperti itu masih ada, walau kita sudah belajar dari sejarah tentang penjajahan dan keserakahan manusia terhadap sumber daya alam. Akhirnya saya hanya bisa berkata kepada anak itu, kalau saya meyakini jika kita mampu melakukan kebaikan dan hal yang benar, itu semata-mata karena pertolongan Roh Kudus.

Percakapan dengan anak itu membekas dalam ingatan saya hingga beberapa hari setelahnya. Dan saya sampai pada ayat di atas. Rasul Paulus mengakui kelemahannya. Karena berusaha melakukan hal yang baik dengan kekuatan diri sendiri, tabiat dagingnya. Dan ketika mengenal hukum Allah, ada transformasi keadaan yang baru menurut Roh. Hidup yang tidak melihat kebenaran dari sudut pandang sendiri, tapi bersedia dikendalikan oleh Roh Kudus untuk melihat kebenaran dari sudut pandang Allah. Bagian ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi kita ketika bertindak. Karena menuntut kerendahan hati untuk bisa mengasihi orang lain, menghargai perbedaan pendapat, merayakan keragaman sebagai anugerah dan merasa cukup dengan berkat yang Tuhan sudah sediakan. Semoga kita bersedia membuka hati untuk peka terhadap tuntunan Roh Kudus, agar hidup kita bisa menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.

(Pnt. Sailorina Herawanni)

DIBERKATI UNTUK MENJADI BERKAT
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah...