Warta Minggu Ini
TOMAS DAN ABRAHAM

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat.” (Ibrani 11: 1)


Dalam renungan singkat ini akan saya suguhkan kisah tentang Tomas dan Abraham. Tomas adalah salah seorang murid Tuhan Yesus. Dia seorang yang realistik, seorang yang baru percaya jika ada fakta. Hal ini bisa kita lihat di Yohanes 20:25 “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu serta menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya”. Beberapa hari kemudian Tuhan Yesus memperlihatkan diri kepada Tomas dan itu menghancurkan statement yang di ucapkannya.

Kisah Abraham lain lagi, suatu saat Tuhan meminta Abraham mempersembahkan anak yang dikasihinya, Ishak. Abraham taat, dia berangkat ke tanah Moria tempat mempersembahkan kurban bersama Ishak dan dia membawa dua hamba. Ending cerita kita semua sudah tahu, Ishak tidak jadi dikurbankan dan posisinya diganti domba jantan. Yang menarik adalah pada suatu saat dalam perjalanan itu Abraham meminta kedua hambanya berhenti dan dia meneruskan perjalanan bersama Ishak, kata Abraham kepada kedua hambanya, “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini. Aku beserta anak ini akan pergi ke sana. Kami akan beribadah, lalu kami akan kembali kepadamu” (Kejadian 22:5). Kami adalah kata ganti orang pertama jamak (lebih dari satu orang), artinya Abraham akan pergi beribadah dengan Ishak dan kembali lagi dengan Ishak. Padahal jika Ishak jadi dikurbankan maka dia akan kembali sendirian. Apakah Abraham tahu bahwa Ishak akan diganti domba jantan? Jelas tidak. Sikap Abraham inilah yang disebut iman. Mengambil sikap sebelum ada fakta.

Melihat dua kejadian di atas dan mengamati sikap kedua orang tersebut terlihat sangat bertolak belakang. Tomas harus melihat fakta dulu, sedangkan Abraham berani mengambil sikap sebelum ada fakta. Tanpa kita sadari, di era digital ini kita lebih sering menjadi Tomas. Kalau belum melihat fakta, rasanya sulit kita akan menerimanya. Memang kita dituntut menjadi manusia yang rasional, itu tidak salah, tetapi ingat masih ada Invisible Hand yaitu tangan Tuhan yang bekerja di luar nalar kita. Yang bekerja di dalam doa kita. Sekarang tergantung kepada kita, mau mengambil sikap Tomas atau Abraham. Silakan dipilih.

(Pnt. Eko Wahyu Andriastono)

 

BAHU JALAN UNTUK KEADAAN DARURAT
“Alangkah cepatnya mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka.” (Keluaran 32: 8a) Ketika terjadi kemacetan di jalan tol,...