Warta Minggu Ini
SELAMA MASIH ADA KESEMPATAN

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,…” (Galatia 6: 10)


Beberapa waktu lalu, saya bersama tim pelawat MJ GKI Kayu Putih melawat Bapak M, salah satu rekan penatua yang akan menjalani operasi by-pass. Saya tidak heran mendengar pengakuan bapak M, bahwa dia sempat merasa gentar sehingga dia menunda-nunda, dan mendatangi beberapa dokter berbeda dengan harapan bertemu dokter yang bilang bahwa dia tidak harus menjalani operasi tersebut. Wajar, karena operasi by-pass adalah salah satu tindakan medis besar. Yang justru membuat saya terkesan adalah kesaksian salah seorang sepupu karib Bapak M – sebut saja
namanya “S”- Jadi, setelah Bapak M bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan dapat menerima vonis dokter untuk menjalani operasi by-pass, beliau berkabar dan mohon doa dari S, via WA. Respons S sangat sederhana: “Tenang saja, bro. Tidak usah takut. Tuhan pasti menolong!”

Dalam hati, refleks saya berkata, “Ucapan yang sangat standard!” Belum tuntas saya bermonolog, bapak M melanjutkan ceritanya. Dua hari setelah mengirimkan pesan yang menenangkannya, S pergi untuk selamanya. Bahkan Bapak M baru mengetahui bahwa saat menuliskan pesan itu, S sendiri sedang dirawat di rumah sakit jantung yang sama – rumah sakit tempat Bapak M berkonsultasi dengan dokter mengenai rencana operasi by-passnya. Jujur, saya tercekat. Di dalam hati saya lanjut bermonolog, “Aduh bagaimana ini? Padahal dia meyakinkan sepupunya bahwa Tuhan akan menolong, tapi dia sendiri meninggal. Apakah Bapak M akan down?”

Untungnya, monolog itu tidak terucap. Apa yang saya khawatirkan dan ingin saya tanyakan, ternyata terjawab dengan sendirinya melalui sikap dan cerita Bapak M selanjutnya. Berbeda dengan apa yang saya khawatirkan, sepanjang perlawatan, tidak tampak sedikit pun kekhawatiran baik dari raut wajah maupun suara Bapak M dan istri yang mendampinginya. Bahkan ada satu kalimat keluar dengan mantap dari mulut bapak M, yang membuat saya ikut merasa tenang: “Saya pikir, kalau soal mati, kita tidak perlu khawatir ya.” Singkat cerita, siang itu kami pun meninggalkan rumah mereka dengan hati yang lega. Kami percaya, Bapak M siap menjalani operasi by-pass, karena dia percaya, entah bagaimana caranya, Tuhan Yesus pasti akan menolongnya.

Dalam perjalanan pulang, saya merenungkan perkataan Paulus dalam Filipi 1:21, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Sebagai orang beriman, saya percaya bahwa bagi S, mati adalah keuntungan, karena ia telah bertemu dengan Allah yang pasti menyambutnya dengan penuh sukacita. Namun dari apa yang diceritakan Bapak M, saya juga melihat bahwa “hidup adalah Kristus” sungguh nyata dalam diri S. Bahkan ketika ia sendiri berada di ambang kematian, ia masih mampu mengucapkan kalimat sederhana untuk memberikan ketenangan bagi orang lain.

Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu yang Tuhan akan percayakan kepada kita, apakah masih bertahun-tahun, berbulan-bulan, atau mungkin hanya tinggal hitungan jam. Namun jika “mati adalah keuntungan”, maka sungguh benar apa yang dikatakan Bapak M, kapan kematian akan menjemput bukanlah masalah utama yang harus kita pikirkan. Yang penting, selama kita masih bernafas artinya masih ada kesempatan untuk berbuat baik. Sesederhana apapun kebaikan yang kita lakukan, asal lahir dari hati yang tulus, kita percaya Tuhan sanggup memakainya menjadi berkat bagi sesama, dan terlebih lagi, menjadi kemuliaan bagi nama-Nya.

(Pnt. Roosmala Djayasukmana)

PERCAYA DAN SETIA
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang...