Warta Minggu Ini
BEYOND FAITH

“Sebab, katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga sumber pendarahannya mengering dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.” (Markus 5: 28-29)


Pada saat melakukan perlawatan ke tempat umat yang sedang sakit, respons umat yang kami kunjungi bermacam-macam. Saya akan mencoba membuat grading atau skala berdasarkan respons mereka yang merindukan kesembuhan dan mendapat kemurahan Tuhan. Saya akan kelompokkan menjadi 4 skala. Mereka yang masuk kategori ekstrim “Hanya mengeluh dan bahkan menyalahkan Tuhan” (Skala 1). “Tanpa pengharapan dan berserah pada keadaan” (Skala 2) “Mudah-mudahan saya bisa sembuh kembali” (Skala 3). “Saya yakin Tuhan akan memberi kesembuhan karena tindakan medis (dokter dan obat-obatan) bagus” (Skala 4). Kalau skala ini merepresentasikan kualitas keimanan, maka kelompok terakhir tampaknya menunjukkan kualitas iman yang paling baik. Memang kalau kita didera penyakit kronis dalam waktu yang cukup lama, skala iman kita bisa naik turun. Kadang kita optimis bahwa melalui perawatan medis yang optimal kita akan sembuh, tetapi kalau kemudian tidak ada perkembangan yang berarti bahkan menjadi lebih parah, maka skala 4 diatas bisa turun ke skala 3, skala 2 dan bahkan skala 1. Terjadi duel antara keyakinan kita akan sembuh dengan serangan penyakit yang semakin menggerogoti. Terjadi pertarungan antara iman dengan kenyataan.

Kembali ke Firman Tuhan di atas. Ayat tersebut diambil dari kisah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Dia sangat menderita. Dia berusaha untuk sembuh sehingga telah dihabiskannya semua harta yang ada padanya untuk berobat. Namun keadaannya malah makin memburuk. Dan dia mendengar tentang banyak kesembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Akhirnya dengan nekat dia menyeruak ditengah-tengah orang banyak untuk mendekati Tuhan Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Saat itu juga dia sembuh dan saat itu juga Tuhan Yesus mengetahui ada kuasa yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang telah menyentuh jubah-Ku”. Apakah Tuhan Yesus marah, ternyata tidak, malah Ia berkata kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu”.

Jika saya gunakan skala iman 1 – 4 di atas, saya berani meletakkan iman perempuan yang menderita pendarahan tersebut pada skala 5. Beyond faith, iman diatas rata-rata, iman yang nekat, iman yang menimbulkan kejutan Ilahi (pinjam istilah tema khotbah Tahun Baru 2026 kemarin). Sekarang pertanyaannya adalah, di manakah letak iman kita saat ini. Apakah masih di skala 1 yang setara dengan minum susu atau kita pada tataran iman skala 4 yang setara dengan makanan keras (1 Kor 3: 2). Atau barangkali kita ada di skala 2 atau 3 yang setara dengan makan bubur. Kita sendiri yang bisa menjawabnya. Sekali-sekali tidak ada salahnya kita mencoba merenung sebentar, seberapa besar kualitas iman kita, seberapa dekat hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Alangkah indahnya kalau iman kita bisa diatas rata-rata, beyond faith. Dan dengan gagah berani kita memberanikan diri menyeruak di tengah-tengah gaduhnya pergumulan kita untuk bisa memegang “jubah Tuhan Yesus” dan berharap terdengar sayup-sayup kata-kata lembut Tuhan “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai karena pergumulanmu telah kuangkat”.

(Pnt. Eko Wahyu Andriastono)

GKI SUMMER CAMP 13
“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose...