“Sebab, sudah nyatalah anugerah Allah yang menyelamatkan semua manusia.” (Titus 2: 11)
Semua anugerah dan kasih karunia Allah, yang kita dapatkan dengan cuma-cuma itu menjadikan saya menyadari dan mawas diri, siapa saya sehingga dapat kasih karunia yang sebesar itu. Baru Natal kali di tahun 2025 yang lalu, sejak saya jadi orang Kristen, saya tidak ikut merayakan Natal, tidak ikut euforia cipika-cipiki dengan wajah sumringah salam mengucapkan “Merry Christmas”.
Pada saat itu, saya mojok sendirian, merenung sendirian, dengan segala rasa yang campur aduk. Di tengah kesendirian itu, tiba-tiba saya tersadar. Seperti ada rasa angin yg semilir dan suara hati yang berbisik, “Mengapa ragu, bukankah Aku selalu ada, selalu mengulurkan tangan-Ku untuk merengkuhmu, meskipun Aku tahu dirimu sebenarnya tidak layak untuk mendapatkan semua anugerah itu? Duuuhhh Gusti, dalem nyuwun pangapunten.
Nikmat juga ternyata mengisi momen Natal yang lalu lewat berkencan dengan Dia yang berulang tahun. Sekalipun tidak ada candle light dinner, tidak ada baju baru, tidak ada lagu-lagu syahdu, dan tidak ada drama yang itu-itu juga. Di hati ini ada tangis, ada rasa bersalah, dan ada sentuhan lembut lewat angin surgawi.
Anugerah Allah yang menyelamatkan manusia hadir dalam Kristus Sang Juruselamat, karena itu beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaan. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah. (Titus 2: 15). Marilah di awal tahun ini kita mengambil yang baik dari tahun 2025 dan kiranya di tahun 2026 ini kita semakin mendekat kepada yang Maha Mulia.
(Yani Himawan)