Warta Minggu Ini
MENYAKSIKAN KESETIAAN TUHAN, SAAT MASALAH MENIMPA

“Allah itu setia dan tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.”  (1 Korintus 10: 13b)


Pernahkah sahabat melihat seseorang yang bertubi-tubi ditimpa  “kemalangan” tapi tetap punya semangat untuk melanjutkan kehidupan dan dari mulutnya tetap keluar ungkapan syukur dan pujian untuk Tuhan? Saya sering melihat hal seperti ini, dan waktu muda dulu, refleks pertama saya dalam hati adalah, “Alangkah hebatnya orang itu… ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga, masih juga ketumpahan cat, tapi tetap bersaksi bahwa Tuhan itu baik” Saya bayangkan, kalau saya yang ada di posisi dia, pasti saya tidak akan sanggup sekuat dia. Mungkin saya sudah meratap atau bahkan mengumpat.

Namun, seiring bertambahnya usia dan dengan memperhatikan beberapa peristiwa, saya mulai memahami bahwa kekuatan iman dan ketabahan seseorang tidak dapat diukur dari luar. Salah satu peristiwa yang sangat menyentuh saya adalah pembunuhan keji terhadap seorang gadis berinisial AS. Di TV, saya melihat orangtuanya – mereka anggota salah satu GKI di Jakarta – sangat tenang saat diwawancarai. Satu kalimat yang sangat menyentuh keluar dari mulut sang ibu, “Rasanya sepi sekali. Biasa kalau saya pulang ke rumah, ada suara celoteh AS. Sekarang tidak ada lagi.” Kesedihan tampak jelas dari raut muka mereka, tetapi tidak ada kemarahan atau dendam terpancar di sana. Ketabahan lain yang juga mengagumkan, saya saksikan dari seorang teman yang luar biasa bersukacita karena akhirnya Tuhan memberikan dia seorang anak setelah 11 tahun menikah. Namun saat anak tersebut belum genap berusia 5 tahun, Tuhan memanggilnya pulang. Luar biasa, di sela-sela isak tangisnya, teman saya dapat mengatakan: “Saya bersyukur, Tuhan memberikan saya 4 tahun kesempatan menjadi ibu bagi X”.

Melalui kesaksian-kesaksian seperti itu, saya jadi mengerti, sebelum Tuhan mengizinkan pencobaan terjadi, pasti Dia terlebih dahulu memperlengkapi orang yang bersangkutan dengan kemampuan dan kekuatan, sehingga dia sanggup menanggungnya. Oleh karena itu, sebagai orang beriman, kita tidak perlu takut menyongsong apapun yang ada di masa depan, termasuk jika itu adalah hal-hal yang tidak menyenangkan atau masalah berat.

Mari jalani setiap hari bersama-Nya, sambil terus mengingat janji-Nya, sehingga ketika masalah berat itu datang, kita tetap dapat memberikan kesaksian hidup yang indah bagi para “penonton” di luar sana, bahwa sungguh Allah kita setia. Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Amin.

(Pnt. Roosmala Djayasukmana)


REFLEKSI SINGKAT MELAYANI
“Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab, kamu tahu bahwa...