“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
(Matius 5 : 37)
Pepatah “Silence is golden” tidak selamanya berlaku pada konteks tertentu. Misalnya saja, saat kita menyaksikan ketidakbenaran sedang terjadi di depan kita, maka diam bukanlah pilihan kita. Kita harus bersuara dan bertindak. Sayangnya, tidak semua orang mau bersuara untuk sesuatu yang tidak benar. Atau tidak semua orang mau repot untuk urusan-urusan yang terkait langsung dengan dirinya pribadi. Padahal, ketika orang itu diam, dia telah merusak, bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga nasib orang banyak atau bangsa.
Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya di bukit mengajak para pendengar-Nya untuk berani bersuara, terutama bersuara untuk kebenaran. Jawaban ya dan tidak terkait kebenaran menunjukkan integritas sekaligus iman dari orang yang mengatakannya. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa konsistenlah terhadap iman kita, apapun yang terjadi. Sekalipun para pendengar-Nya berada pada tekanan, namun apabila menyangkut kebenaran, katakan “ya.” Sebaliknya, terhadap ketidakbenaran, beranilah berkata “tidak.” Dengan tegas, Tuhan Yesus menambahkan, Apa yang lebih daripada itu berasal si jahat. Mengapa? Sebab ketidakkonsistenan, kehilangan integritas bisa menyebabkan kerusakan bahkan kematian bagi orang tersebut, orang lain, dan komunitasnya. Hal merusak dan mematikan merupakan pekerjaan si jahat.
Saat ini, bangsa kita sedang bersiap memasuki pesta demokrasi lima tahunan. Kita masuk dalam tahun pemilu, di mana kita memilih pemimpin bangsa kita untuk lima tahun ke depan. Pilihan Presiden, Wakil Presiden dan para wakil rakyat merupakan hak seluruh rakyat Indonesia. Hak itu jugalah yang akan menentukan ‘nasib’ bangsa kita ke depannya.
Dalam beberapa kasus pemilu dari berbagai bangsa dan bangsa kita sendiri, ada kelompok orang yang disebut sebagai “golput” yang dengan sengaja tidak menggunakan hak suaranya untuk memilih salah satu calon. Ada banyak alasan mereka ketika tidak memilih. Ada alasan-alasan yang bisa kita terima, dan ada alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Namun, pilihan untuk tidak memilih, apapun alasannya, berdampak pada kerugian.
Amerika Serikat adalah salah satu contohnya. Pada pemilu Presiden tahun 2016 yang lalu, ada sejumlah besar penduduk yang tidak menggunakan suaranya untuk memilih. Dalam catatan sejarah Amerika Serikat, inilah pesta demokrasi yang paling rendah diikuti. Ada 42,4% penduduk yang tidak menggunakan haknya. Mereka menjadi “the silent majority” dari keputusan masa depan bangsa Amerika Serikat. Sekarang pun mereka menjadi penikmat dari keputusan mereka sendiri bersama dengan mereka yang memberi hak suaranya.
Pada tanggal 17 April yang akan datang, saya dan Anda diajak untuk bersuara. Kita masih punya waktu untuk mempelajari siapa figur yang tepat memimpin bangsa kita. Pelajari rekam jejaknya, dan beranilah bersuara! Pilihlah mereka yang mencintai bangsa kita serta menjunjung Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Tuhan memberkati kita dan bangsa ini.
(Pdt. Linna Gunawan)