Warta Minggu Ini
THE SECOND HOME

“…di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain daripada maut!”
(Rut 1: 17)

Jalan Tuhan tidak bisa kita selami, namun yang pasti, janji Tuhan bagi kita adalah selalu ada jalan bagi setiap pergumulan kita. Hobi travelling bagi saya pribadi selalu membawa cerita dan pengalaman rohani untuk selalu bersyukur atas hidup yang Tuhan beri. Dalam setiap pengalaman itu membawa cerita yang ingin saya bagikan untuk menyaksikan betapa besar cinta kasih Tuhan bagi anak-anak-Nya. Tahun lalu ketika saya mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke negara Paman Sam, Tuhan memberikan keluarga baru bagi saya. Keluarga Moore di Houston memberi saya tempat berteduh, dan memberi saya kehangatan dan makna cinta kasih keluarga yang sesungguhnya. Betapa tidak, sekalipun saya belum pernah berjumpa langsung dengan ibu Lucy Moore (selama ini, kami berkomunikasi sebatas suara via telepon), namun Keluarga Moore menerima saya dengan penuh kehangatan bahkan mengajarkan saya arti sebuah keluarga. Thanksgiving 2016 lalu membuat saya benar-benar merasakan cinta kasih Tuhan yang sangat luar biasa dalam hidup saya.

Cerita itu hanya satu kisah, masih ada lagi kisah perjumpaan saya dengan sesama yang membuat saya percaya Tuhan hadir melalui sesama. Misalnya saja, perjumpaan saya dengan seorang gadis asal Nepal yang bernama Preeti Pokhrel Koirala di kota Kyoto beberapa waktu lalu. Seolah Tuhan ingin mengatakan bahwa di dunia ini begitu banyak keluarga yang boleh menjadi bagian dari hidup saya meskipun mereka berbeda dan tidak sedarah dengan saya. Saya teringat sebuah kutipan indah yang berbunyi, “Family is not always blood. It’s peoples in your life who wants you in theirs and the one who accept you for who you’re. The ones would do anything to see you smile and who love you no matter what”.

Kejadian demi kejadian ini mengingatkan saya tentang kisah Rut, yang tetap setia menemani Naomi, mertuanya setelah Tuhan mengambil suami dari hidupnya. Kasih Rut yang menggerakkan hatinya untuk tetap tinggal menemani Naomi, mertuanya. Bahkan Rut dengan berani berujar, “…di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain daripada maut!”. Rut meyakini bahwa meskipun dia tidak sedarah dengan Naomi, namun hatinya sudah terpaut dengan Naomi, sang ibu mertua. Bethlehem-Yehuda seolah menjadi “the second home” bagi Rut, perempuan Moab.

Perjalanan hidup ini, khususnya pengalaman berjumpa dengan para sahabat Allah, selalu mengingatkan dan menegur saya bahwa ketika Tuhan memberi kesempatan kita untuk tinggal dalam dunia ini, hendaknya kita boleh mensyukuri setiap kesempatan yang Tuhan beri. Maka, biarlah kita terus berkarya menghadirkan kehangatan cinta kasih Allah kepada sesama yang kita jumpai. Biarlah mereka mendapatkan “the second home” dalam hidup mereka sehingga mereka merasa damai hidup di dunia ini; penuh cinta kasih; mendapatkan penerimaan yang tulus. Biarlah mereka kemudian menebarkan kehangatan yang sama, menjadi “the second home” bagi sesama lainnya. Soli Deo Gloria.

(Kumalawati Abadi)

MELAKUKAN APA YANG HARUS DILAKUKAN
“Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.” (Ulangan 34: 4b) Jika diandaikan...