“Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” (Mazmur 50: 15)
Ada saat-saat dalam hidup ketika semua yang kita miliki seakan runtuh dalam sekejap. Rencana berhenti, langkah terhenti, dan yang tersisa hanyalah rasa sakit, ketakutan, dan doa. Itulah yang dialami kakak ipar saya ketika menjadi korban tabrak lari. Benturan keras menyebabkan bonggol pangkal pahanya retak dan harus dioperasi. Di balik wajah yang berusaha tegar, tersimpan kecemasan yang begitu dalam. Akankah operasi berjalan lancar? Akankah ia dapat berjalan kembali? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikirannya.
Dalam menjalani hari-hari penantian menuju operasi, rasa sakit datang silih berganti. Setiap gerakan menimbulkan nyeri yang hebat. Air mata tak mampu lagi dibendung. Namun, di tengah kelemahannya, ada satu hal yang tidak pernah berhenti: ia terus berseru kepada Tuhan. Doanya sederhana, “Tuhan, tolong saya. Buatlah operasi ini berhasil dan izinkan saya dapat berjalan kembali.”
Mazmur 50:15 mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah menutup telinga terhadap seruan anak-anak-Nya. Ia mendengar doa yang dipanjatkan dengan hati yang hancur dan iman yang berserah. Tuhan tidak meminta doa yang indah atau kata-kata yang hebat. Ia hanya mencari hati yang datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan.
Puji Tuhan, operasi berlangsung dengan baik. Pemulihannya pun terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Beberapa hari kemudian ia sudah dapat berjalan dengan bantuan tongkat. Bahkan seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS. Kami percaya, semua itu bukanlah kebetulan. Tuhan bekerja melalui tangan para dokter, tenaga medis, obat-obatan, dan setiap fasilitas yang telah Ia sediakan. Anugerah-Nya sering kali hadir melalui cara-cara yang sederhana, tetapi nyata.
Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa Tuhan tidak selalu mengangkat kita dari lembah seketika, tetapi Ia berjalan bersama kita melewati lembah itu. Di saat kita merasa tidak mampu melangkah, Tuhan menopang. Di saat air mata menjadi bahasa yang tak terucapkan, Tuhan sudah lebih dahulu memahami isi hati kita.
Mungkin hari ini Anda juga sedang menanti jawaban doa. Jangan lelah berharap. Jangan berhenti berseru. Air mata yang jatuh dalam iman tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Pada waktu-Nya yang terbaik, Ia akan bertindak. Dan ketika pertolongan itu datang, kita akan berkata dengan penuh syukur, “Tuhan sungguh setia. Ia tidak pernah meninggalkan aku.”
(Pnt. Fidya Ningsih Djuwadi)