PERJALANAN

“Berkatalah Musa kepada-Nya, “Jika bukan Engkau sendiri yang berjalan beserta kami, jangan bawa kami pergi dari sini.” (Keluaran 33: 15)


Bulan Agustus 2026 yang lalu, kami sekeluarga bepergian estafet ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perjalanan ini sudah kami rencanakan sejak lama dengan menggunakan mobil pribadi. Menjelang hari keberangkatan ada perasaan gamang hinggap dalam diri saya, mengingat perjalanan ini cukup jauh. Kami berencana menginap di 3 kota dan perjalanan ini kurang lebih memakan waktu 8 hari. Faktor keselamatan, kesehatan, kelelahan dan hambatan lain bisa muncul sewaktu-waktu dalam perjalanan. Tetapi dengan berdoa dan berserah kepada Tuhan, the show must go on. Dalam kenyataannya perjalanan tersebut memang cukup melelahkan, namun berkat penyertaan Tuhan, kami tiba di kota tujuan akhir dengan selamat.

Ayat di atas adalah perkataan Musa waktu bersama bangsa Israel mengelilingi padang gurun selama 40 tahun sejak mereka keluar dari Mesir menuju Kanaan. Sebenarnya perjalanan dari Mesir ke Kanaan bisa ditempuh jauh lebih cepat dari waktu itu. Tetapi mengapa bisa sampai 40 tahun, kita semua sudah paham kisahnya. Banyak drama terjadi dalam perjalanan tersebut. Bangsa Israel memang terkenal tegar tengkuk, keras kepala dan cenderung bandel. Musa dibuat kerepotan menanganinya. Dimulai dari kasus haus minta air, minta daging, membuat patung lembu emas, 10 pengintai yang gamang, dan beberapa kejadian lain yang membuat mereka akhirnya dihukum Tuhan berkelana 40 tahun.

Perjalanan hidup kita mungkin lebih dari 40 tahun dan banyak drama yang kita jumpai. Namun kalau sekaliber Musa saja masih tidak mau berjalan sendiri dan minta penyertaan Tuhan, mengapa kita sering arogan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita sering hanya mengandalkan harta kita, lobby kita, power kita dan Tuhan kita nomor berapakan, sehingga akhirnya perjalanan kita berujung pada kekecewaan. Drama yang ditunjukkan bangsa Israel sering kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga hidup ini terasa panjang dan melelahkan.

Kami sekeluarga akhirnya balik kembali ke Jakarta. Perjalanan yang relatif singkat jika dibandingkan dengan perjalanan bangsa Israel dan juga perjalanan hidup kita. Namun sesingkat apapun, jangan sampai kita lepas dari penyertaan Tuhan. Dalam perjalanan pulang kami dengarkan sebuah lagu rohani Welyar Kauntu yang merupakan gubahan perkataan Musa di atas.

Bila Engkau tak besertaku, ku tak mau berjalan.
Kuperlu Tuhan pimpin langkahku, dengan kasih karunia-Mu.

Pimpin langkahku setiap waktu, berjalan dalam RohMu.
Nyatakan Tuhan kemuliaan-Mu dan berjalanlah denganku

(Pnt. Eko Wahyu Andriastono)

JALAN LURUS ATAU BERKELOK?
“Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini...