Warta Minggu Ini
PENDERITAAN BAGI ORANG PERCAYA

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
(Mazmur 34 : 19)

Barangkali dalam hidup ini kita pernah bertanya kepada Tuhan, mengapa masalah yang harus kita tanggung terasa begitu berat? Kadang kita pun merasa Tuhan sepertinya meninggalkan kita dengan masalah yang kita alami, entahkah itu sakit penyakit, atau persoalan-persoalan hidup lainnya. Barangkali kita juga kadang berpikir, mengapa sepertinya kehidupan orang percaya tidak jauh lebih ‘nyaman’ daripada mereka yang tak percaya kepada Kristus. Namun, terlepas dari semua itu, pernahkah kita menghitung dan mengingat setiap penyertaan dan kasih-Nya di dalam hidup kita yang penuh warna? Benarkah Allah tidak peduli lagi terhadap perderitaan, permasalahan, sakit penyakit umat-Nya?

Mazmur 34 adalah nyanyian Daud ketika sedang berpura-pura tidak waras pikirannya sehingga ia kemudian diusir. Bila kita mencermati ayat 16, di sana Daud jelas mengatakan bahwa mata Tuhan tertuju pada orang benar, bahkan telinga-Nya kepada mereka yang meminta tolong. Jika demikian, maka Allah tidak pernah sekalipun meninggalkan anak-Nya yang sedang berteriak minta tolong. Di ayat yang ke-18 kita juga menemukan sebuah keyakinan, bahwa Allah akan melepaskan orang-orang benar yang berseru itu dari segala kesesakan. Tidak berhenti sampai di sana, Allah menurutnya ialah Allah yang dekat kepada orang-orang yang patah hati, yang remuk jiwanya. Bukankah justru pada keadaan patah hati dan remuk jiwa, kita sering kali merasa Allah jauh? Namun menurut Daud, justru di sanalah sebenarnya Allah menjadi dekat dengan kehidupan umat-Nya yang percaya. Menariknya, Daud sadar benar bahwa kemalangan bukan hal yang jauh dari kehidupan orang percaya. Di tengah kesadaran Daud akan kemalangan yang seringkali melekat dan dirasakan oleh orang-orang benar, dia sadar dan mengaku bahwa Tuhan akan melepaskan satu demi satu kemalangan itu. Daud melalui nyanyian mazmurnya telah mengingatkan kita, namun juga menguatkan kita.

Belajar dari Daud, kita perlu menyadari bahwa hidup orang yang percaya kepada Allah tidak lepas dari penderitaan. Namun kita belajar percaya bahwa pada waktunya, Dia, Allah yang selalu mendengar akan mengulurkan tangan-Nya dan melepaskan belenggu penderitaan itu. Pelangi tidak akan indah bila hanya berwarna jingga saja, atau merah saja. Pelangi baru indah bila ia memiliki beragam warna, merah, jingga, kuning, hijau, dan biru. Hidup kita juga terasa indahnya apabila berwarna seperti pelangi. Namun sudahkah kita mengijinkan dan menyadari penyertaan Allah di dalam warna-warna kelam, gelap, dan suram dalam kehidupan kita? Sama seperti Daud, percayalah bahwa di dalam setiap pertanyaan, atau bahkan mungkin protes kita kepada-Nya, Dia, Allah yang mendengar, sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjadikan yang kelam tadi terang.

(Elisa Bernike)

HATI
“Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27 : 19) Lie to Me: The Truth...