MERESAPI DAMAI SEJAHTERA

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.


Sebagai orang Kristen kita pasti sering mendengar “damai sejahtera” disebutkan baik dalam kebaktian maupun dalam renungan Alkitab. Namun, kita perlu memahami makna damai sejahtera dengan lebih mendalam. Setelah memahami, kita berefleksi, “Bagaimana pemahaman tersebut bisa menjadi buah dalam hidup kita sebagai bentuk ibadah kita yang sejati?”

Saya mempunyai kerabat, sebut saja Ibu Nana. Selama bertahun-tahun, setiap Ibu Nana ini sedang dalam “kesulitan” dia selalu memohon bantuan saya. “Kesulitan” disini saya menggunakan tanda petik, karena berkali-kali kesulitan yang dialaminya adalah bagian dari kelalaiannya sendiri. Misalnya, dia menghubungi dan mendesak saya untuk membayarkan tagihan air, listrik, dan kartu kredit yang dia tunggak selama berbulan-bulan. Jika tidak, petugas sudah mengancam akan mencabut listrik/air nya. Saya membantu dengan kesal sekaligus tidak tega karena membayangkan anaknya yang masih kecil jika tidak ada listrik/ air. Saya tahu dia bukan tidak mampu, tetapi gaya hidupnya yang tidak memprioritaskan kebutuhanlah yang menyebabkan dia sering terjebak dalam “kesulitan” sendiri. Bertahun-tahun ini terjadi.

Tiga tahun terakhir saya resmi aktif melayani di gereja. Di awal-awal saya menjadi pelayan, kejadian itu tetap terjadi dan kekesalan saya selalu muncul. Saya bergumul dalam diri sendiri. Saya tahu Tuhan tidak mengajarkan kita untuk menaruh amarah, tetapi hati manusia saya tidak bisa terima. Sampai di satu titik, saya tiba-tiba berpikir apa

yang saya miliki di dunia ini bukan milik saya, melainkan milik Tuhan. Jika saya memberi sedikit materi kepada orang lain, buat apa saya marah karena itu pun bukan milik saya? Dalam kasus ini, saya hanya meneruskan materi yang dititipkan Tuhan kepada saudara saya. Sejak hari itu perlahan hati saya mulai mengalami ketenangan dan damai sejahtera. Bahkan, ketika Ibu Nana lagi-lagi memohon bantuan, saya berikan bantuan dengan damai sambil menegur dan mendoakan ibu Nana agar beliau berubah. Di situ saya merasa bahagia dan bahkan meresapi arti “damai sejahtera” yang sesungguhnya. Kita melihat suatu masalah bukan lagi menjadi masalah.

Sehingga jelas, damai sejahtera sudah ada di dalam hati kita masing-masing, hanya tinggal kita mau atau tidak mengalahkan kedagingan kita dan mengaplikasikan damai sejahtera tersebut dalam hidup kita sehari-hari. Dunia bisa saja memberikan damai, tetapi belum tentu menghasilkan sejahtera bagi seluruh manusia. Hanya dengan ajaran Tuhan Yesus lah semua manusia bisa mengalami damai sejahtera.

Mungkin kita semua harus melewati proses sampai pada tahap “meresapi damai sejahtera”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti meresapi adalah masuk ke dalam semua bidang dan setiap bidang mendapat bagian yang sama. Artinya “damai sejahtera” harus sampai meresap oleh setiap indera, pikiran dan jiwa kita, sehingga kita bisa berpikir dan bertindak 180 derajat kembali ke pada apa yang diajarkan Tuhan Yesus.

(NN)

AKU ANAK RAJA
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5: 48) “Aku anak Raja…,...