“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6: 24)
Kita wajib bersyukur kalau kita bisa memasuki tahun 2026 dengan selamat. Jika kita flashback tahun 2025, negara kita memang penuh dinamika dan tantangan yang tidak gampang, beberapa peristiwa besar yang terjadi cukup mendebarkan antara lain adanya demonstrasi masa hampir di seluruh kota besar di Indonesia yang diwarnai dengan kerusuhan, adanya lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan di akhir tahun kita melihat terjadinya bencana yang cukup dahsyat di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Menghadapi tahun 2026 ini, prediksi para pengamat ada yang optimis tetapi tidak sedikit pula yang pesimis. Mereka yang memprediksi optimis berpendapat kondisi politik dan sosial akan lebih stabil dan lebih “adem”, pertumbuhan ekonomi lebih baik, meningkatnya investasi asing dan beberapa indikator lain yang cukup menggembirakan. Tetapi yang pesimis, mereka memberikan prediksi yang sebaliknya. Di periode informasi dan transformasi yang sangat terbuka saat ini, kita memang harus cerdas membaca “tanda-tanda zaman”, kita bisa memilih optimis atau pesimis sangat tergantung pada kecerdasan dan keputusan kita karena kita memang diberi free will untuk itu.
Demikian juga berdasarkan ayat di atas, kita diberi free will untuk membuat pilihan apakah kita mengabdi kepada Allah atau kepada Mamon. Kata Mamon (mamona) berasal dari Bahasa Aram yang merujuk pada kekayaan, harta benda dan uang. Mamon bisa juga merupakan personifikasi dari iblis dan keserakahan. Namun dalam renungan kita kali ini Mamon lebih kita fokuskan kepada kekayaan, harta benda dan uang. Jika tahun 2026 ini kita memilih Mamon sebagai dewa atau tuan yang memimpin kehidupan kita, maka kita akan kecewa kalau kita tidak mendapatkannya. Kalaupun kita mendapatkannya, belum tentu kita sejahtera. Karena uang adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang jahat. Mendewakan uang bisa membuat kita lupa diri dan membawa kita kepada kehancuran, karena tidak ada Allah di dalamnya. Mendewakan Mamon akan senantiasa membawa kekuatiran dan ketakutan serta cenderung pesimis menghadapi masa depan.
Bagaimana kalau kita memilih Allah. Jawabannya ada di ayat 33: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Kalau kita cerdas menggunakan free will kita dan memilih penyertaan Allah dalam kehidupan kita, maka kita akan tergolong mereka yang optimis menyongsong tahun 2026, karena Allah akan memenuhi semua kebutuhan kita. Mungkin tahun 2026 tidak mudah dan bisa lebih berat dibanding tahun 2025, tetapi kita lebih tahan banting, karena ada Allah disamping kita yang akan menggendong kita kala kita mengalami kesulitan. Selamat Tahun Baru 2026.
(Pnt. Eko Wahyu Andriastono)