“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang mempunyai keluhan terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian.” (Kolose 3: 13)
Pada Hari Selasa 23 September 2025 saya mengikuti kegiatan Life Group DEMUDA yang dibawakan dan dilayani oleh Kak Tya. Dengan Tema PENGAMPUNAN: Mengampuni Tidak Sama dengan Melupakan. Kalau berbicara tentang pengampunan, hal ini erat kaitannya dengan isi hati, sikap serta cara kita dalam menghadapi sesuatu atau seseorang yang telah menimbulkan masalah, sakit hati dan hal- hal yang merugikan bagi kita. Pertanyaannya apakah kita sebagai manusia sudah pada tahap mengampuni atau masih pada tahap memaafkan saja? Mengampuni adalah sebuah Tindakan melepaskan suatu emosi atau perasaan marah kepada orang lain yang telah menyakiti kita dan merugikan kita. Mengampuni bukan berarti melupakan apa yang terjadi tetapi lebih kepada ikhlas dan berusaha melepaskan segala sesuatu yang menimbulkan hal buruk pada diri kita.
Mengampuni orang lain yang telah berbuat kurang baik kepada kita memang tidak mudah dan diperlukan proses sampai hati dan pikiran kita dapat merasakan damai sejahtera dan ketenangan kembali. Sedikit demi sedikit pengampunan dapat dilakukan dengan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan. Pengampunan tidak bisa dipisahkan dari kasih yang tanpa syarat. Seperti pengampunan yang Tuhan telah berikan kepada setiap kita yang berdosa yang tanpa syarat. Sedangkan memaafkan biasanya memiliki beragam dan bermacam syarat misalnya saja ketika kita menghilangkan barang atau tidak sengaja merusakkan barang kepunyaan orang lain, pada situasi normal pasti orang yang memiliki barang tersebut meminta ganti rugi dan orang itu baru bersedia memaafkan kita dan masih banyak contoh
lainnya.
Pertanyaan refleksi untuk direnungkan oleh kita. Apakah kita sudah memaafkan setiap orang yang melukai dan merugikan diri kita? Apakah memungkinkan kita mengampuni apabila orang lain tidak lebih dahulu meminta maaf kepada kita? Pertanyaan terakhir apakah hal yang paling sulit bagi kita untuk dimaafkan dan diampuni? Bagi saya pribadi, saya telah memaafkan orang-orang yang menyakiti hati saya dan bersikap kurang baik terhadap saya. Bagi saya hal tersulit untuk dimaafkan adalah ketika saya mendapatkan perlakuan yang menjatuhkan semangat dan mental saya. Namun itu dulu, sekarang saya sudah melepaskan rasa sakit dan memaafkan kejadian tersebut.
Saya yakin dari setiap kita pernah atau sedang mengalami hal yang menyakiti hati atau kurang mengenakkan bagi diri kita maupun orang orang yang ada di sekitar kita. Memang bukan hal yang mudah bagi kita untuk memberikan maaf dan pengampunan, namun saya yakin dengan pertolongan dan kuasa kasih dari Tuhan, kita mampu melewati dan memaafkan setiap peristiwa buruk dan menyakitkan dalam hidup kita. Kita
hanyalah manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Karena itu, mari kita saling mengasihi dan menciptakan damai di manapun kita berada dan berdoa minta kepada Tuhan Agar hati kita memiliki rasa belas kasih dan hati yang mengampuni.
(Rivaldi Tanuwijaya)