“Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”
(Efesus 5 : 33)
Bulan Februari dianggap orang identik dengan bulan kasih sayang, karena pada tanggal 14 Februari orang pun merayakan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day. Umumnya, kaum muda-mudi yang ramai merayakan hari ini. Khususnya hari ini dianggap menjadi momen bagi mereka menyatakan cinta kepada orang yang dikasihnya. Berbagai bentuk pernyataan cinta dilakukan, gairah cinta mewarnai perayaan hari kasih sayang ini. Kedua kekasih ingin selalu berdekatan bak tak terpisahkan. Tak heran apabila Titiek Puspa melagukan kegairahan cinta melalui lirik: “jatuh cinta berjuta rasanya.” Sayangnya kegairahan cinta pada masa pacaran kadang terkikis ketika keduanya telah menjadi pasangan suami isteri. Relasi menjadi hambar seperti cinta mereka yang pudar. Bahkan beberapa pasangan juga mulai melupakan janji pernikahan mereka di altar gereja untuk tetap saling mencintai, baik suka maupun duka.
Rasul Paulus memberi nasihat menarik tentang relasi cinta suami dan isteri. Menurutnya, cinta itu berasal dari Allah karena Allah adalah kasih. Relasi suami dan isteri seperti relasi Tuhan dengan jemaat-Nya. Kita yang saling mengasihi berarti mewarisi ciri Allah yang mengasihi jemaat-Nya. Paulus secara tegas mengatakan suami mengasihi isterinya seperti dia mengasihi tubuhnya sendiri, sama seperti dia mengasihi dirinya sendiri (ay. 28). Apabila suami mengasihi tubuhnya dan dirinya, dia akan merawatnya dengan baik. Demikian pula dengan relasinya dengan isterinya, cinta kasih itu perlu mendapat perawatan dan pemeliharaan yang baik dan sehat. Mencintai isteri dan isteri menaruh hormat kepada suami merupakan seni merawat dan memelihara pernikahan.
Pada pertengahan bulan Februari, gereja kita akan menyelenggarakan “Weekend Pasutri.” Acara ini tentu menjadi ajang yang positif dalam memelihara dan merawat relasi pasangan suami isteri. Kita diingatkan kembali akan kehadiran Allah dalam pernikahan, dan terus menjadikan cinta kasih-Nya sebagai sumber cinta kasih suami dan isteri. Kita akan disegarkan pula makna saling mencintai. Sebagaimana hukum kasih mengajarkan kita, mencintai sesama harus dimulai dengan mengasihi diri sendiri. Mencintai pasangan sama halnya dengan kita mencintai diri kita sendiri. Karena itu, lebih indah apabila kita mencintai terlebih dulu, dan dicintai adalah bonusnya dalam relasi dengan orang lain, termasuk dengan pasangan kita. Mencintai akan menggerakkan pasangan kita untuk membalas cinta kita, bukan karena terpaksa, tetapi muncul dengan sendirinya sebagai bentuk cinta kepada Tuhan dan diri sendiri.
Kiranya semangat untuk mencintai dan dicintai menjadi bagian dari komitmen kita di tahun 2019 ini. Kita terus merawat cinta kasih terhadap pasangan kita seperti kita merawat tubuh kita sendiri. Kita belajar menerima kehadiran Tuhan terus-menerus dalam rumah tangga kita; dan semoga kasih ini menular pula dalam relasi dengan sesama.
(David I. Situmeang)