Warta Minggu Ini
MELAKUKAN APA YANG HARUS DILAKUKAN

“Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.” (Ulangan 34: 4b)


Jika diandaikan sebagai sebuah film, maka perjalanan Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir berakhir sedih, tidak sesuai dengan harapan. Karena idealnya Musa pantas menuai hasil jerih lelah dan pengorbanannya, memimpin satu bangsa yang daya juangnya rendah, mudah mengeluh dan ketaatannya jarang bertahan lama. Kita juga mungkin bisa memahami jika ada titik Musa menjadi lelah dan marah. Tapi peristiwa Meriba yang membuat Musa tidak diizinkan Tuhan masuk ke tanah perjanjian bukan masalah biasa. “…apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” kata Musa di Bilangan 20:10. Tuhan yang berkuasa dan sanggup berubah menjadi kami yang berkuasa dan sanggup. Musa mengubah jalan yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan di depan mata umat Israel dan Tuhan tidak kompromi dengan ketidaktaatan dan tidak hormatnya Musa.

Namun, yang menarik adalah kendati sudah mengetahui sejak di Meriba, hukuman Tuhan atasnya, Musa tetap menyelesaikan tugasnya hingga di penghujung usianya. Musa mungkin kecewa (Ulangan 3:26). Tetapi dia menyelesaikan setiap bagian perintah Tuhan dengan setia. Musa tetap memuliakan Tuhan yang menuntun umat-Nya (Ulangan 32:12), Musa memerintahkan bangsa Israel untuk mengasihi Tuhan Allah (Ulangan 30:16), dan Musa mempersiapkan Yosua memegang tongkat kepemimpinan selanjutnya (Ulangan 31:3b, 7). Musa tetap menjaga fokus bahwa yang sesungguhnya menuntun bangsa Israel adalah Tuhan, dan dia hanya alat dan hamba yang dipakai oleh Tuhan. Musa memang tidak pernah sampai ke tanah perjanjian, tapi hingga hari ini namanya terus disebut sebagai pemimpin yang membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, dan Ibrani 11 mencatatnya sebagai salah satu saksi-saksi iman (Ibrani 11:23-29).

Musa bergaul akrab dan mengenal Tuhan yang berbicara langsung padanya. Sehingga dia meyakini Tuhan bisa memakai siapa pun dan cara apa pun dalam menjalankan rencana dan karya-Nya. Bagiannya hanya menyelesaikan panggilannya sebaik mungkin. Seperti juga kita, dipakai Tuhan sebagai bagian dari rencana-Nya, tak peduli besar atau kecil peran yang Tuhan percayakan kepada kita. Semoga kita juga dimampukan menyelesaikannya dengan baik. Dan pada akhirnya mengakui bahwa “…kami hamba-hamba yang tidak berguna. Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Lukas 17:10)

(Pnt. Sailorina Herawanni)

SEDERHANA BUKAN BERARTI TANPA MAKNA
“Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi...