“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28: 20b)
Kita manusia memang mahluk pelupa, atau sengaja melupakan. Kilas balik enam tahun yang lalu, hampir semua orang di dunia merasakan ketidakpastian untuk hari esok. Apa yang akan terjadi, kapan pandemi COVID-19 akan berakhir? Apa yang harus saya lakukan, apa yang akan terjadi dengan pekerjaan, bisnis, sekolah, atau bahkan kehidupan kita? Yang ada hanya kekhawatiran dan ketakutan. Belum lagi kehilangan orang-orang yang kita kenal, yang kita sayang, menjadi berita sehari-hari. Tapi seperti pepatah: what doesn’t kill you, make you stronger. Kita adalah orang-orang yang lolos dari seleksi pandemi, maka tiba-tiba saat itu kita menjadi sangat beriman dan bersyukur akan penyertaan Tuhan.
Namun, kita memasuki tahun ini dengan begitu banyak kejadian yang sangat mengkhawatirkan. Ada perang, krisis energi dan lain sebagainya. Tiba-tiba kita jadi lupa akan penyertaan Tuhan semasa COVID lalu. Kita menjadi ragu, khawatir dan galau. Bagaimana kalau perang terus berlanjut? Bagaimana jika harga BBM dan bahan pokok jadi makin mahal dan langka? Bagaimana kelangsungan usaha, bisnis dan pekerjaan kita? Bagaimana kita dapat melanjutkan kehidupan ini?
Mungkin ada baiknya kita sekilas melihat ke belakang semasa COVID, di mana penyertaan Tuhan nyata. Beriman bahwa apapun di hadapan kita, ketidakpastian (seperti masa COVID), perang nun jauh di sana, inflasi ataupun kelangkaan kebutuhan kita, Tuhan tetap menyertai dan akan terus beserta dan memberkati kita. Tidak mudah memang. Akan tetapi, kita pernah merasakan hal yang sama dan berhasil melewati itu. Iman yang sama kepada Tuhan yang akan senantiasa tetap tinggal pada kita. Tuhan menyertai kita. Sebutlah nama Dia – Immanuel!
(Jerry Fandy)