“Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”” (Yoh. 3: 3)
Bertanya sering kali dianggap sebagai sebuah pertaruhan reputasi. Semakin tinggi jabatan atau usia seseorang, semakin besar pula ekspektasi orang lain agar ia “tahu segalanya”. Namun, kisah Nikodemus memberikan perspektif yang berbeda. Nikodemus adalah seorang pengajar, tokoh masyarakat, dan anggota Sanhedrin yang sangat dihormati. Secara intelektual, ia adalah seorang ahli. Namun, ia memilih untuk mendatangi Yesus dan menempatkan dirinya sebagai seorang murid yang tidak tahu apa-apa.
Sikap Nikodemus ini sangat kontras dengan rekan-rekan sesama Farisi pada umumnya. Jika kita menilik asal katanya, “Farisi” berasal dari kata Prishim yang berarti “penjelasan”. Tugas utama mereka adalah menjelaskan hukum – sebuah peran yang menuntut mereka untuk selalu terlihat lebih pintar dan lebih tahu dari orang lain. Komunitas ini cenderung memisahkan diri (exclusive) dan merasa diri spesial. Namun, di tengah komunitas yang merasa “paling tahu” dan gemar menyalahkan Yesus, Nikodemus justru menunjukkan kerendahan hati untuk belajar. Belajar seringkali bukan lagi soal menambah informasi, melainkan soal keberanian untuk “menjadi benar” (hidup dalam kebenaran) daripada sekadar “terlihat pintar”. Nikodemus menyadari hal ini. Ia tidak sedang mencari tambahan teori; ia sedang mencari kepastian atas keraguan jiwanya.
Keputusannya untuk menjumpai Yesus pada malam hari bisa dipahami sebagai metafora dari sebuah pergumulan batin. Malam hari adalah waktu di mana keraguan biasanya muncul dengan paling jujur. Mungkin ada rasa takut atau malu jika reputasinya sebagai tokoh besar jatuh karena ketahuan bertanya kepada Yesus. Namun, bagi Nikodemus, kejujuran di hadapan Yesus jauh lebih penting daripada menjaga citra di hadapan manusia. Ia tidak malu mengakui bahwa di balik segala gelar dan kehormatannya, ada banyak hal yang ia tidak pahami. Ia mengawali percakapan dengan sebuah pengakuan iman yang tulus melalui pujian kepada Yesus.
Yesus menjawab keraguan itu dengan konsep “dilahirkan kembali” dalam Roh. Bagi orang dewasa yang sudah mapan dengan prinsip-prinsip hidupnya, dilahirkan kembali berarti kesediaan untuk dibersihkan. Ini adalah proses yang sulit karena berarti kita harus menanggalkan pemahaman lama yang keliru, melepaskan perasaan merasa lebih hebat, serta membuang anggapan bahwa diri kita sudah “oke” dan sudah selesai belajar. Nikodemus diingatkan bahwa seseorang yang merasa dirinya sudah “penuh” tidak akan pernah bisa diisi. Ia harus merasa “kosong” agar bisa diisi dengan kebenaran yang sejati.
Relevansinya bagi kita saat ini sangatlah dalam. Keinginan untuk diakui sering kali menutupi kejujuran kita untuk mengakui kekurangan. Persoalannya, apakah dorongan kita untuk tahu selama ini didasari oleh keinginan mencari kebenaran, atau hanya sekadar demi validasi harga diri? Semangat Nikodemus adalah semangat untuk mau mendengar kembali, mau menghargai nasihat, dan bersedia dibimbing oleh petunjuk Tuhan. Menjadi dewasa bukan berarti berhenti bertanya, melainkan memiliki keberanian untuk mengakui bahwa kita masih membutuhkan jawaban dari Sang Sumber Kebenaran.
(NN)