KAPAN BISA MERASA CUKUP?

“Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. (Matius 6: 11)


Sebuah taman kecil, di satu sudut kota Solo, sebulan setelah kerusuhan Mei 1998, dipenuhi tumpukan barang elektronik hasil jarahan massa. Sebagian barang elektronik terlihat masih bagus dan bisa digunakan. Tapi, tak ada orang mau mengambilnya. Cerita dari warga kota Solo saat itu, para penjarah sebagian besar bahkan tak memiliki rumah yang cukup besar untuk menampung hasil jarahan mereka. Menjualnya pun tak semudah yang dibayangkan. Kondisi mencekam dan ekonomi yang porak poranda membuat orang hanya memikirkan keselamatan diri yang terutama. Ketika kembali ke kota Solo, beberapa bulan setelahnya. Sebagian besar barang elektronik masih tergeletak dan menumpuk di taman itu, menjadi rongsokan penuh karat. Tiada nilai dan manfaatnya lagi.

Lebih seperempat abad sesudahnya, mata dibuat terperanjat dengan berita
ditemukannya tumpukan emas puluhan kilogram, uang tunai dan valuta asing ratusan milyar. Orang berlomba menghitung, bisa dipergunakan apa saja harta sebanyak itu. Lalu keluarlah aneka perhitungan, yang kelihatan lucu tapi membuat miris. Dengan menjual emasnya saja, orang bisa membangun lebih 50 rumah mewah atau dua klaster hunian untuk masyarakat menengah ke bawah. Bisa membeli 90 supercar, atau untuk membayar gaji 30 ribu lebih buruh dengan standar UMR 5 juta. Jika digunakan untuk membeli makanan tiga kali sehari selama setahun, ada lebih 10 ribu orang dapat menikmatinya. Entah pilihan mana yang menjadi motivasi sedemikian rapinya emas dan uang sebanyak itu disimpan?

Yesus mengajarkan doa Bapa Kami …berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya…. Cukup, sebagai sumber tenaga dalam berkegiatan hari ini. Cukup, untuk dibagikan dengan sesama yang mungkin belum tercukupi kebutuhannya akan makanan. Cukup, karena  mempercayai Tuhan sanggup menyediakan apa yang kita butuhkan. Cukup, membantu kita bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan tak pernah mengenal batas. Mata dan hati yang tak pernah puas pada berkat yang sudah Tuhan limpahkan, akan membuat orang lupa menghitung apakah gaya hidupnya sesuai dengan penghasilan.

Merasa cukup dengan berkat yang Tuhan sediakan, tergambar seperti telapak tangan yang menerima tetesan air, bagian kita cukup pada telapak saja. Sisanya mengalir lewat sela jemari untuk dinikmati sesama kita.


(Pnt. Sailorina Herawanni)

BERJAGA DAN BERDOA
“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa,…” Lukas 21: 36 Dalam peperangan, salah satu faktor yang pasti membuat seseorang kalah adalah ketika...