Warta Minggu Ini
INGIN KEMBALI KE MASA ‘BAWANG PREI’

“Kita teringat pada ikan yang kita makan di Mesir tanpa bayar, pada mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.” (Bil. 11: 5)


“Piye kabare? Enak jamanku tho?”. Sebuah slogan terkenal ketika keriuhan pesta demokrasi mewarnai negeri ini. Tulisan ini tidak akan membahas latar dan pilihan politis dari slogan tersebut. Tapi, untuk melihat adanya kesamaan dengan bagian ayat di atas. Orang Israel yang senang bernostalgia saat merasa berat perjalanan di gurun, bahwa di masa lalu jauh lebih baik.

Mereka bisa mengingat detil segala kenyamanan hidup di masa lalu yang ‘tidak’ mereka temukan dalam perjalanan ke tanah perjanjian. Membaca  pasal-pasal awal kitab Keluaran, saat masih berada di Mesir, orang Israel  sudah mengeluh karena perbudakan dan berseru minta pertolongan. Allah
mendengar rintihan mereka (Keluaran 2: 23-25) dan membawa mereka keluar dari perbudakan. 40 tahun perjalanan di gurun. Allah memelihara mereka lewat manna yang setiap pagi terhampar di sekitar perkemahan mereka. Mereka tak perlu bekerja apalagi membayar.

Kita mungkin pernah memiliki keinginan kembali ke ‘masa bawang prei’. Saat gurun hidup kita terasa berat. Dulu kok tak seberat ini?. Ya, ketika fokus kita pada beban yang berat, sulit melihat bagian lain dari perjalanan itu. Semakin tinggi jenjang pendidikan, materi semakin berat dan tugas semakin bertambah. Lalu menoleh ke masa tingkatan pendidikan masih rendah, tantangannya tak seberat ini. Saat belum masuk kehidupan rumah tangga, tak banyak tanggung jawab perlu dipikirkan. Ketika berumah tangga, harus memikirkan kebutuhan hidup anggota keluarga dan pendidikan anak. Menoleh ke ‘masa bawang prei’, rasanya fisik dan mental tak selelah masa sekarang.

Bisa jadi kesulitan hidup di masa sekarang adalah konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Ada juga kesulitan yang dihadapi sebenarnya dibarengi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan, perbaikan karakter, atau memperkuat daya juang . Melihat dari setiap sisi akan menolong kita tidak hanya fokus pada kesulitannya. Tapi mampu melihat kebaikan dan berkat Tuhan tetap ada dan kasihNya pun tak pernah berubah, kendati musim kehidupan kita selalu berubah.

Pnt. Sailorina Herawanni

BERDEBAT DENGAN TUHAN
Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku...