“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Lukas 5: 31-32)
Pada 31 Maret 2026 kami komunitas pensiunan sebuah institusi perbankan melakukan perlawatan ke salah satu rumah tahanan (Rutan) di Jakarta. Perlawatan ini merupakan agenda rutin yang selama ini kami lakukan baik ke panti asuhan, panti jompo, rumah sakit, Rutan dan tempat-tempat lain yang perlu perlawatan. Di dalam Rutan kami melakukan ibadah bersama di sebuah gedung gereja (kapel) interdenominasi. Kami pelawat hadir 20 orang bersama seorang Romo Katolik, sedangkan penghuni Rutan yang ikut ibadah sekitar 80 orang. Pelayanan ibadah sebagian besar justru dilayani teman-teman dari Rutan. Kami yang melawat hanya mengisi kotbah (oleh Romo) dan doa syafaat. Saya kagum jadwal aktivitas mereka di gereja cukup padat dalam seminggu, ada ibadah, latihan musik, paduan suara, pemahaman Alkitab dan lain-lain. Tampaknya di gereja mereka merasakan kehadiran Tuhan. Mereka berpendapat gereja adalah bengkel untuk memperbaiki kehidupan mereka yang memang perlu perbaikan.
Ungkapan gereja ibarat sebuah bengkel pernah saya dengar dalam khotbah di sebuah gereja, namun kemudian saya temukan lagi dalam statement Max Lucado, The church is a workshop, not a showroom. We are not here to
exhibit our perfections, but to repair our imperfections. Lucado adalah pendeta dan penulis terkenal asal Amerika Serikat. Gaya penulisannya sederhana, puitis, hangat, fokus pada tema kasih karunia dan pengharapan.
Beliau lahir di Texas pada 11 Januari 1955. Sebelum menjadi penulis beliau melakukan pelayanan sebagai misionaris di Rio de Janeiro, Brasil.
Menurut beliau, showroom fokusnya adalah memamerkan produk-produk terbaik yang tampak sempurna, mengkilap, dan tanpa cacat. Jika gereja dianggap sebagai showroom, maka banyak orang harus “memakai topeng”, agar mereka tampak baik-baik saja, hidup mapan, tanpa pergumulan dan terlihat “rohani”. Lucado mengkritik konsep ini karena membuat orang yang sedang terluka, gagal, atau bergumul dengan dosa merasa minder, tidak layak, dan akhirnya memilih menjauh karena merasa tidak “sebersih” mereka yang berada di ruang pameran. Lucado menegaskan bahwa gereja seharusnya menjadi bengkel. Bengkel adalah tempat bagi kendaraan yang mogok, penyok karena tabrakan, mesinnya berasap, atau olinya bocor. Di bengkel, tidak ada orang yang malu mengakui bahwa ada bagian dari hidupnya yang rusak, karena semua orang yang datang ke sana memang sedang membutuhkan perbaikan dari Sang Montir Agung (Tuhan).
Pulang dari Rutan saya merenung, jangan-jangan banyak di antara kita selama ini memandang gereja sebagai showroom. Padahal banyak bagian kehidupan kita yang masih penyok dan perlu perbaikan. Sikap beribadah teman-teman penghuni Rutan yang memandang gereja sebagai bengkel itulah yang benar, mereka lagi terluka, mereka sakit, dan perlu tabib, Tuhan pasti berkenan menerima ibadahnya.
(Pnt. Eko Wahyu Andriastono)