Warta Minggu Ini
DUNIA YANG MENJADI PANGGUNG SANDIWARA

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
(Matius 5 : 37)

Ada sebuah lagu rock Indonesia zaman dulu yang liriknya membuat saya tersadar:

“Dunia ini panggung sandiwara. Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan
yang harus kita mainkan. Ada peran wajar ada peran berpura pura…”

Akhir-akhir ini bagi kita yang tinggal di Jakarta, pikiran kita telah dipenuhi dengan suatu acara penting yaitu PILKADA. Media massa juga sibuk memberitakan dinamika politik terkait PILKADA. Para kandidat pun sibuk menggalang dukungan dalam masa kampanye. Kini saatnya PILKADA kembali dilanjutkan menuju putaran kedua. Ada banyak hal yang saya pelajari dari dinamika tersebut dan dapat kita maknai secara iman kristiani kita. Tidak jarang untuk mencapai suatu tujuan, manusia akhirnya mencoba memainkan “peranan” seolah dunia kita ini sebuah panggung sandiwara. Kita melakukan hal-hal yang mungkin sesungguhnya bukan jati diri kita, namun untuk mencapai suatu tujuan kita akhirnya “rela” memainkan peran tidak wajar dan berpura-pura. Seringkali di dunia modern ini kita membuat alasan bahwa memainkan sandiwara adalah bagian dari membaca situasi atau “mengerti keadaan”.

Tentu alasan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun yang menjadi berbahaya ketika kita menjadi terbuai dan terbiasa bersandiwara untuk mencapai tujuan yang tidak mulia dan melakukannya untuk berpura-pura mengelabui orang lain. Bahasa yang kita sampaikan bisa kita rangkai sedemikian rupa agar orang lain mengira bahwa “sandiwara kita” itu adalah jati diri kita. Tidak hanya dalam panggung PILKADA, dalam media sosial kita, tidak jarang teman kita atau bahkan diri kita memainkan sandiwara berpura-pura agar orang lain mengagumi kita melalui unggahan foto-foto, status-status, lokasi dan bentuk-bentuk lain.

Kita mencoba menampilkan sesuatu yang tidak kita sadari bersifat menipu dan menjerumuskan kita ke dalam dosa. Hal tersebut datangnya dari si jahat seperti dalam Matius 5 : 37. Kita mungkin tidak bohong secara nyata, namun kebohongan itu kita kemas sedemikian rupa melalui sikap yang tidak terus terang dan penuh pura-pura. Misalnya saja, ada yang di media sosialnya sibuk mengunggah kegiatan rohani dan ayat-ayat Alkitab agar dikira netizen dia adalah orang yang religius, padahal di gereja pun dia sibuk membaca status dan membalas komentar netizen.

Saya menjadi berpikir apakah sudah seperti itu dunia kita bersandiwara? Tidak jarang pada panggung PILKADA berbagai pernyataan dan janji-janji yang penuh sandiwara dilontarkan. Mungkin kita tergelitik mendengarnya, padahal dalam skala yang kecil kita sebagai orang Kristen pun tidak jarang bersandiwara dan menjadi munafik. Kita menjadi lupa bahwa Yesus meminta kita agar kita menjadi pribadi yang apa adanya, jujur dan penuh kerendahan hati. Namun, memang gejolak sosial masa kini memacu kita untuk melakukan lebih dari kemampuan diri kita, sehingga lagu Panggung Sandiwara itu ditutup dengan sebuah kalimat, “…Dunia ini penuh peranan, dunia ini bagaikan jembatan kehidupan, mengapa kita bersandiwara…” Kita harus berhati-hati pada pribadi yang penuh lakon sandiwara, karena mungkin kepura-puraannya berasal dari si jahat.

(Yanuar Tedjawidjaja)

WRONG PERSON IN THE RIGHT PLACE
“…, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun...